Sabtu, 25 Juni 2011

PAPER SEX REVERSAL


I.  PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Perkembangan zaman yang semakin pesat memaksa manusia berfikir ekonomis yang selalu beroreantasi pada keuntungan yang besar. Pemikiran ini sejalan dengan prisip budidaya perikanan yang tujuan akhirnya adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini yang mendasari para peneliti untuk menghasilkan ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Ikan dapat memiliki ekonomis tinggi tergantung terhadap keinginan konsumen dan daya tarik ikan itu sendiri baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Ikan hias akan memiliki nilai jual tinggi ketika ikan tersebut dapat menghasilkan warna dan bentuk yang menarik dan biasanya pada ikan hias yang dapat menghasilkan warna dan bentuk yang menarik adalah ikan jantan. Sedangkan, untuk ikan konsumsi yang memiliki nilai jual yang tinggi adalah ikan betina. Hal ini dikarenakan ikan betina memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan ikan jantan.
Permasalahan diatas saat ini telah ditemukan jalan keluarnya yaitu dengan sex reversal atau pembelokan kelamin. Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat  dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam  cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah.
Hormon yang digunakan untuk membelokan jenis kelamin jantan menjadi betina adalah estradiol-17, esteron, estriol, dan ethynil estradiol. Hormone yang digunakan untuk membelokan jenis kelamin betina menjadi jantan adalah testoteron, 117-α-methyl testoteron, dan androstendion.

1.2. Tujuan
           Paper ini dibuat dengan tujuan agar pembaca dapat mengerti dan memahami lebih jelas mengenai tehnik sex reversal (menghasilkan kelamin tunggal).
 
  
II. SEX REVERSAL

2.1. Sejarah Sex reversal
           Teknik sex reversal mulai dikenal pada tahun 1937 ketika estradiol 17 disintesis untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pada mulanya teknik ini diterapkan pada ikan guppy (Poeciliareticulata sp.). Kemudian dikembangkan oleh Yamamato di Jepang pada ikan medaka (Oryzias latipes). Ikan medaka betina yang diberi metiltestosteron akan berubah menjadi jantan. Setelah melalui berbagai penelitian teknik ini menyebar keberbagai negara lain dan diterapkan pada berbagai jenis ikan. Awalnya dinyakini bahwa saat yang baik untuk melakukan sex reversal adalah beberapa hari sebelum menetas (gonad belum terdiferensiasikan). Teori ini pun berkembang karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa sex reversal dapat diterapkan melalui embrio dan induk yang sedang bunting.

2.2. Pengertian Sex reversal
           Sex reversal merupakan teknik buatan yang dimaksudkan untuk pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnya berkelamin jantan menjadi kelamin betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan sebelum terdiferensiasinya gonad ikan secara jelas antara jantang dan betina pada waktu menetas. Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya.
 
2.3. Metode Sex reversal
Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sel kromosomnya.  Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan 50% betina pada pemijahan pertama dan 30% jantan 50% betina pada pemijahan berikutnya.
Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat  dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam  cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis ikan hias seperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan daripada ikan betina. Dengan demikian nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina. Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras murni. Pada kasus hermaprodit, hormon yang diberikan hanya akan mempercepat proses perubahan sedangkan pada sex reversal perubahannya benar-benar dipaksakan. Ikan yang seharusnyaberkembang menjadi betina dibelokkan perkembangannya menjadi jantan melalui proses penjantanan (maskulinisasi). Sedangkan ikan yang seharusnya menjadi jantan dibelokkan menjadi betina melalui proses pembetinaan (feminisasi).


III. KESIMPULAN

Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sel kromosomnya.  Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan 50% betina pada pemijahan pertama dan 30% jantan 50% betina pada pemijahan berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarsito, Hamzah S., dan Dini S.M. 2003. Pengaruh Penambahan Methyltestoteron dalam Pakan terhadap Nisbah Kelamin Ikan Guppy (Poeciliareticulata sp). Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. [Jurnal Penelitian].

Adam M. F. 2006. Pengaruh Pemberian Pakan Berhormon 17a-Metiltestosteron Pada Dosis 30, 40, Dan 50 mg/kg Pakan Terhadap Nisbah Kelamin Ikan Luo Han (Cichlasoma Sp). Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Jurnal Penelitian].

Arifin T.M. 2006. Optimalisasi Dosis Hormon Metiltestosteron dan Lama perendaman Benih Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy Lac.) Terhadap Keberhasilan Pembentukan kelamin Jantan. [Jurnal Penelitian].
Olá! Se você ainda não assinou, assine nosso RSS feed e receba nossas atualizações por email, ou siga nos no Twitter.
Nome: Email:

0 komentar:

Poskan Komentar