Rabu, 07 September 2011

MAKALAH OSEANOGRAFI


PENGARUH FAKTOR-FAKTOR OSEANOGRAFI TERHADAP PRODUKTIVITAS PRIMER PERAIRAN INDONESIA

 I.  PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Sebaran klorofil-a di laut bervariasi secara geografis maupun berdasarkan kedalaman perairan.  Variasi tersebut diakibatkan oleh perbedaan intensitas cahaya matahari, dan konsentrasi nutrien yang terdapat di dalam suatu perairan. Sebaran klorofil-a di laut lebih tinggi konsentrasinya pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai.  Tingginya sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan pantai dan pesisir disebabkan karena adanya suplai nutrien dalam jumlah besar melalui run-off dari daratan, sedangkan rendahnya konsentrasi klorofil-a di perairan lepas pantai karena tidak adanya suplai nutrien dari daratan secara langsung. Namun pada daerah-daerah tertentu di perairan lepas pantai dijumpai konsentrasi klorofil-a dalam jumlah yang cukup tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang dihasilkan melalui proses fisik massa air, dimana massa air dalam mengangkat nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan (Valiela, 1984). 
Perairan Indonesia yang dipengaruhi oleh sistem pola angin muson memiliki pola sirkulasi massa air yang berbeda dan bervariasi antara musim, disamping itupula juga dipengaruhi oleh massa air Lautan Pasifik yang melintasi perairan Indonesia menuju Lautan Hindia melalui sistem arus lintas Indonesia (Arlindo).  Sirkulasi massa air perairan Indonesia berbeda antara musim barat dan musim timur.  Musim barat, massa air umumnya mengalir ke arah timur perairan Indonesia, dan sebaliknya ketika musim timur berkembang dengan sempurna suplai massa air yang berasal dari daerah upwelling di Laut Arafura dan Laut Banda akan mengalir menunju perairan lndonesia bagian barat (Wyrtki, 1961).  Perbedaan suplai massa air tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap kondisi perairan yang akhirnya mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas perairan.  Tisch et al. (1992) mengatakan perubahan kondisi suatu massa air dapat diketahui dengan melihat sifat-sifat massa air yang meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan kandungan nutrien.
Dengan melihat akan keberadaan perairan Indonesia dimana karena adanya perbedaan pola angin yang secara langsung mempengaruhi pola arus permukaan perairan Indonesia dan perubahan karakteristik massa diduga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap tingkat produktivitas perairan.  Keadaan ini tergantung pada berbagai hal, seperti bagaimana sebaran faktor fisik-kimia perairan.  Untuk itu perlu dilakukan analisa untuk mempelajari dan menelaah pengaruh faktor-faktor oseanografi terhadap sebaran fisik-kimia perairan dan keterkaitannya terhadap tingkat konsentrasi klorofil-a (Gambar 1).
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/02201/simon_t_files/image002.jpg
Gambar 1.   Skema pendekatan masalah untuk melihat pengaruh faktor oseanografi terhadap produktivitas primer perairan Indonesia.

1.2.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari dan menganalisa faktor-faktor oseanografi yang mempengaruhi produktivitas primer di perairan Indonesia.
Manfaat penulisan adalah sebagai informasi kesuburan suatu perairan agar upaya pemanfaatan dan pengelolaan dapat dilakukan secara optimal.
 
II.  KARAKTERISTIK AIR LAUT
 2.1. Suhu
Laut tropik memiliki massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya pemanasan yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Pemanasan tersebut mengakibatkan terbentuknya stratifikasi di dalam kolom perairan yang disebabkan oleh adanya gradien suhu.  Berdasarkan gradien suhu secara vertikal di dalam kolom perairan, Wyrtki (1961) membagi perairan menjadi 3 (tiga) lapisan, yaitu: a) lapisan homogen pada permukaan perairan atau disebut juga lapisan permukaan tercampur; b) lapisan diskontinuitas atau biasa disebut lapisan termoklin; c) lapisan di bawah termoklin dengan kondisi yang hampir homogen, dimana suhu berkurang secara perlahan-lahan ke arah dasar perairan.
Menurut Lukas and Lindstrom (1991), kedalaman setiap lapisan di dalam kolom perairan dapat diketahui dengan melihat perubahan gradien suhu dari permukaan sampai lapisan dalam.  Lapisan permukaan tercampur merupakan lapisan dengan gradien suhu tidak lebih dari 0,03oC/m (Wyrtki, 1961), sedangkan kedalaman lapisan termoklin dalam suatu perairan didefinisikan sebagai suatu kedalaman atau posisi dimana gradien suhu lebih dari 0,1oC/m (Ross, 1970).
Suhu permukaan laut tergantung pada beberapa faktor, seperti presipitasi, evaporasi, kecepatan angin, intensitas cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam kolom perairan.  Presipitasi terjadi di laut melalui curah hujan yang dapat menurunkan suhu permukaan laut, sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan akibat adanya aliran bahang dari udara ke lapisan permukaan perairan.  Menurut McPhaden and Hayes (1991), evaporasi dapat meningkatkan suhu kira-kira sebesar 0,1oC pada lapisan permukaan hingga kedalaman 10 m dan hanya kira-kira 0,12oC pada kedalaman 10 – 75 m.  Disamping itu Lukas and Lindstrom (1991) mengatakan bahwa perubahan suhu permukaan laut sangat tergantung pada termodinamika di lapisan permukaan tercampur.  Daya gerak berupa adveksi vertikal, turbulensi, aliran buoyancy, dan entrainment dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada lapisan tercampur serta kandungan bahangnya.  Menurut McPhaden and Hayes (1991), adveksi vertikal dan entrainment dapat mengakibatkan perubahan terhadap kandungan bahang dan suhu pada lapisan permukaan.   Kedua faktor tersebut bila dikombinasi dengan faktor angin yang bekerja pada suatu periode tertentu dapat mengakibatkan terjadinya upwelling.  Upwelling menyebabkan suhu lapisan permukaan tercampur menjadi lebih rendah.  Pada umumnya pergerakan massa air disebabkan oleh angin.  Angin yang berhembus dengan kencang dapat mengakibatkan terjadinya percampuran massa air pada lapisan atas yang mengakibatkan sebaran suhu menjadi homogen.
2.2.  Salinitas
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai.  Perairan dengan tingkat curah hujan tinggi dan dipengaruhi oleh aliran sungai memiliki salinitas yang rendah sedangkan perairan yang memiliki penguapan yang tinggi, salinitas perairannya tinggi.  Selain itu pola sirkulasi juga berperan dalam penyebaran salinitas di suatu perairan.
 Secara vertikal nilai salinitas air laut akan semakin besar dengan bertambahnya kedalaman.  Di perairan laut lepas, angin sangat menentukan penyebaran salinitas secara vertikal.  Pengadukan di dalam lapisan permukaan memungkinkan salinitas menjadi homogen.  Terjadinya upwelling yang mengangkat massa air bersalinitas tinggi di lapisan dalam juga mengakibatkan meningkatnya salinitas permukaan perairan.
Sistem angin muson yang terjadi di wilayah Indonesia dapat berpengaruh terhadap sebaran salinitas perairan, baik secara vertikal maupun secara horisontal. Secara horisontal berhubungan dengan arus yang membawa massa air, sedangkan sebaran secara vertikal umumnya disebabkan oleh tiupan angin yang mengakibatkan terjadinya gerakan air secara vertikal.  Menurut Wyrtki (1961), sistem angin muson menyebabkan terjadinya musim hujan dan panas yang akhirnya berdampak terhadap variasi tahunan salinitas perairan.   Perubahan musim tersebut selanjutnya mengakibatkan terjadinya perubahan sirkulasi massa air yang bersalinitas tinggi dengan massa air bersalinitas rendah.  Interaksi antara sistem angin muson dengan faktor-faktor yang lain, seperti run-off dari sungai, hujan, evaporasi, dan sirkulasi massa air dapat mengakibatkan distribusi salinitas menjadi sangat bervariasi.  Pengaruh sistem angin muson terhadap sebaran salinitas pada beberapa bagian dari perairan Indonesia telah dikemukakan oleh Wyrtki (1961). Pada Musim Timur terjadi penaikan massa air lapisan dalam (upwelling) yang bersalinitas tinggi ke permukaan di Laut Banda bagian timur dan menpengaruhi sebaran salinitas perairan.  Selain itu juga di pengaruhi oleh arus yang membawa massa air yang bersalinitas tinggi dari Lautan Pasifik yang masuk melalui Laut Halmahera dan Selat Torres.  Di Laut Flores, salinitas perairan rendah pada Musim Barat sebagai akibat dari pengaruh masuknya massa air Laut Jawa, sedangkan pada Musim Timur, tingginya salinitas dari Laut Banda yang masuk ke Laut Flores mengakibatkan meningkatnya salinitas Laut Flores.  Laut Jawa memiliki massa air dengan salinitas rendah yang diakibatkan oleh adanya run-off dari sungai-sungai besar di P. Sumatra, P. Kalimantan, dan P. Jawa.
2.3.  Densitas air laut (st)
Distribusi densitas dalam perairan dapat dilihat melalui stratifikasi densitas secara vertikal di dalam kolom perairan, dan perbedaan secara horisontal yang disebabkan oleh arus.  Distribusi densitas berhubungan dengan karakter arus dan daya tenggelam suatu massa air yang berdensitas tinggi pada lapisan permukaan ke kedalaman tertentu.  Densitas air laut tergantung pada suhu dan salinitas serta semua proses yang mengakibatkan berubahnya suhu dan salinitas.  Densitas permukaan laut berkurang karena ada pemanasan, presipitasi, run off dari daratan serta meningkat jika terjadi evaporasi dan menurunnya suhu permukaan.
Sebaran densitas secara vertikal ditentukan oleh proses percampuran dan pengangkatan massa air.  Penyebab utama dari proses tersebut adalah tiupan angin yang kuat. Lukas and Lindstrom (1991), mengatakan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 % terlihat adanya hubungan yang positif antara densitas dan suhu dengan kecepatan angin, dimana ada kecenderungan meningkatnya kedalaman lapisan tercampur akibat tiupan angin yang sangat kuat. Secara umum densitas meningkat dengan meningkatnya salinitas, tekanan atau kedalaman, dan menurunnya suhu.

III. FAKTOR UTAMA YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS PRIMER DI LAUT

3.1.  Cahaya
Cahaya merupakan salah satu faktor yang menentukan distribusi klorofil-a di laut. Di laut lepas, pada lapisan permukaan tercampur tersedia cukup banyak cahaya matahari untuk proses fotosintesa.  Sedangkan di lapisan yang lebih dalam, cahaya matahari tersedia dalam jumlah yang sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Ini memungkinkan klorofil-a lebih banyak terdapat pada bagian bawah lapisan permukaan tercampur atau pada bagian atas dari permukaan lapisan termoklin jika dibandingkan dengan bagian pertengahan atau bawah lapisan termoklin.  Hal ini juga dikemukakan oleh Matsuura et al. (1997) berdasarkan hasil pengamatan di timur laut Lautan Hindia, dimana diperoleh bahwa sebaran konsentrasi klorofil-a pada bagian atas lapisan permukaan tercampur sangat sedikit dan mulai meningkat menuju bagian bawah dari lapisan permukaan tercampur dan menurun secara drastis pada lapisan termoklin hingga tidak ada klorofil-a lagi pada lapisan di bawah lapisan termoklin.
Fotosintesa fitoplankton menggunakan klorofil-a, c, dan satu jenis pigmen tambahan seperti protein-fucoxanthin dan peridinin, yang secara lengkap menggunakan semua cahaya dalam spektrum tampak.  Pada panjang gelombang 400 – 700 nm, cahaya yang diabsorbsi oleh pigmen fitoplankton dapat dibagi dalam: cahaya dengan panjang gelombang lebih dari 600 nm, terutama diabsorbsi oleh klorofil dan cahaya dengan panjang gelombang kurang dari 600 nm, terutama diabsorbsi oleh pigmen-pigmen pelengkap/tambahan (Levinton, 1982).
Adanya perbedaan kandungan pigmen pada setiap jenis plankton, maka jumlah cahaya matahari yang diabsorbsi oleh setiap plankton akan berbeda pula.  Keadaan ini berpengaruh terhadap tingkat efisiensi fotosintesa. Fujita (1970) dalam Parsons et al. (1984) mengklasifikasi alga laut berdasarkan efisiensi fotosintesa oleh pigmen kedalam tipe klorofil-a dan b untuk alga hijau dan euglenoid; tipe klorofil-a, c, dan caratenoid untuk diatom, dinoflagelata, dan alga coklat; dan tipe klorofil-a dan ficobilin untuk alga merah dan alga hijau biru. 
3.2.  Nutrien
Nutrien adalah semua unsur dan senjawa yang dibutuhkan oleh tumbuhan-tumbuhan dan berada dalam bentuk material organik (misalnya amonia, nitrat) dan anorganik terlarut (asam amino). Elemen-elemen nutrien utama yang dibutuhkan dalam jumlah besar adalah karbon, nitrogen, fosfor, oksigen, silikon, magnesium, potassium, dan kalsium, sedangkan nutrien trace element dibutuhkan dalam konsentrasi sangat kecil, yakni besi, copper, dam vanadium (Levinton, 1982). Menurut Parsons et al. (1984), alga membutuhkan elemen nutrien untuk pertumbuhan.  Beberapa elemen seperti C, H, O, N, Si, P, Mg, K, dan Ca dibutuhkan dalam jumlah besar dan disebut makronutrien, sedangkan elemen-elemen lain dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit dan biasanya disebut mikronutrien atau trace element.
Sebaran klorofil-a di dalam kolom perairan sangat tergantung pada konsentrasi nutrien.  Konsentrasi nutrien di lapisan permukaan sangat sedikit dan akan meningkat pada lapisan termoklin dan lapisan di bawahnya.  Hal mana juga dikemukakan oleh Brown et al. (1989), nutrien memiliki konsentrasi rendah dan berubah-ubah pada permukaan laut dan konsentrasinya akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman serta akan mencapai konsentrsi maksimum pada kedalaman antara 500 – 1500 m. 
3.3.  Suhu
            Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung.  Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa.  Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa (Pmax), sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton (Tomascik et al., 1997 b).
Secara umum, laju fotosintesa fitoplankton meningkat dengan meningkatnya suhu perairan, tetapi akan menurun secara drastis setelah mencapai suatu titik suhu tertentu. Hal ini disebabkan karena setiap spesies fitoplankton selalu berdaptasi terhadap suatu kisaran suhu tertentu.
 
IV. OSEANOGARFI INDONESIA

Perairan Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan Australia berada dalam suatu sistem pola angin yang disebut sistem angin muson.  Angin muson bertiup ke arah tertentu pada suatu periode sedangkan pada periode lainnya angin bertiup dengan arah yang berlawanan.  Terjadinya angin muson ini karena terjadi perbedaan tekanan udara antara daratan Asia dan Australia (Wyrtki, 1961).  Pada bulan Desember – Pebruari di belahan bumi utara terjadi musim dingin sedangkan di belahan bumi selatan terjadi musim panas sehingga pusat tekanan tinggi di daratan Asia dan pusat tekanan rendah di daratan Australia.  Keadaan ini menyebabkan angin berhembus dari daratan Asia menuju Australia.  Angin ini dikenal di sebelah selatan katulistiwa sebagai angin Muson Barat Laut.  Sebaliknya pada bulan Juli – Agustus berhembus angin Muson Tenggara dari daratan Australia yang bertekanan tinggi ke daratan Asia yang bertekanan rendah.
Sirkulasi air laut di perairan Indonesia dipengaruhi oleh sistem angin muson. Oleh karena sistem angin muson ini bertiup secara tetap, walaupun kecepatan relatif tidak besar, maka akan tercipta suatu kondisi yang sangat baik untuk terjadinya suatu pola arus.  Pada musim barat, pola arus permukaan perairan Indonesia memperlihatkan arus bergerak dari Laut Cina Selatan menuju Laut Jawa.  Di Laut Jawa, arus kemudian bergerak ke Laut Flores hingga mencapai Laut Banda. Sedangkan pada saat Muson Tenggara, arah arus sepenuhnya berbalik arah menuju ke barat yang akhirnya akan menuju ke Laut Cina Selatan (Wyrtki, 1961).
 Perairan Indonesia merupakan perairan di mana terjadi lintasan arus yang membawa massa air dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia yang biasanya disebut Arus Lintas Indonesia/Arlindo (Fieux et al., 1996b). Massa air Pasifik tersebut terdiri atas massa air Pasifik Utara dan Pasifik Selatan (Tomascik et al., 1997a; Wyrtki, 1961; Ilahude and Gordon, 1996; Molcard et al., 1996; Fieux et al., 1996a).  Terjadinya arlindo terutama disebabkan oleh bertiupnya angin pasat tenggara di bagian selatan Pasifik dari wilayah Indonesia.  Angin tersebut mengakibatkan permukaan bagian tropik Lautan Pasifik Barat lebih tinggi dari pada Lautan Hindia bagian timur.  Hasilnya terjadinya gradien tekanan yang mengakibatkan mengalirnya arus dari Lautan Pasifik ke Lautan Hindia.  Arus lintas Indonesia selama Muson Tenggara umumnya lebih kuat dari pada di Muson Barat Laut.
Sumber air yang dibawa oleh Arlindo berasal dari Lautan Pasifik bagian utara dan selatan.  Perairan Selat Makasar dan Laut Flores lebih banyak dipengaruhi oleh massa air laut Pasifik Utara sedangkan Laut Seram dan Halmahera lebih banyak dipengaruhi oleh massa air dari Pasifik Selatan.  Gordon et al. (1994) mengatakan bahwa massa air Pasifik masuk kepulauan Indonesia melalui 2 (dua) jalur utama, yaitu:
1.   Jalur barat dimana massa air masuk melalui Laut Sulawesi dan Basin Makasar. Sebagian massa air akan mengalir melalui Selat Lombok dan berakhir di Lautan Hindia sedangkan sebagian lagi dibelokan ke arah timur terus ke Laut Flores hingga Laut Banda dan kemudian keluar ke Lautan Hindia melalui Laut Timor.
2.   Jalur timur dimana massa air masuk melalui Laut Halmahera dan Laut Maluku terus ke Laut Banda.  Dari Laut Banda, menurut Gordon (1986) dan Gordon et al.,(1994) massa air akan mengalir mengikuti 2 (dua) rute.  Rute utara Pulau Timor melalui Selat Ombai, antara Pulau Alor dan Pulau Timor, masuk ke Laut Sawu dan Selat Rote, sedangkan rute selatan Pulau Timor melalui Basin Timor dan Selat Timor, antara Pulau Rote dan paparan benua Australia (Gambar 2).
Struktur massa air perairan Indonesia umumnya dipengaruhi karakteristik massa air Lautan Pasifik dan sistem angin muson. Dimana pada Musim Barat (Desember – Pebruari) bertiup angin muson barat laut di bagian selatan katulistiwa dan timur laut di utara katulistiwa, karakteristik massa air perairan Indonesia umumnya ditandai dengan salinitas yang lebih rendah, sedangkan pada Musim Tmur (Juni – Agustus) bertiup angin muson tenggara di selatan katulistiwa dan barat daya di utara katulistiwa, perairan Indonesia memiliki karakteristik dengan nilai salinitas yang lebih tinggi.
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/02201/simon_t_files/image004.jpg
Gambar 2.  Lintasan massa air asal Lautan Pasifik Utara dan selatan di Perairan Indonesia (Publikasi Universitas Columbia, internet, 1997 dalam Naulita, 1998).

Schalk (1987) mengatakan bahwa pergantian musim mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap kondisi hidrologi perairan.  Dikatakan pula bahwa Musim Timur (Juni – September) menyebabkan terjadinya upwelling di Laut Banda dan stabilitas vertikal pada kolom perairan menjadi rendah.  Namun pada Musim Barat (Desember – Maret) terjadi downwelling dengan stabilitas vertikal kolom perairan menjadi tinggi.  Selanjutnya dikatakan bahwa pada bulan Agustus di saat terjadinya upwelling, suhu permukaan perairan berkisar pada 25oC, sedangkan pada bulan Pebruari di saat terjadinya downwelling, suhu permukaan perairan lebih dari 25oC dan umumnya perairan lebih berstratifikasi di bagian barat Laut Banda.
Suhu permukaan laut perairan Indonesia umumnya berkisar antara 25 – 30oC dan mengalami penurunan satu atau dua derajat dengan bertambahnya kedalaman hingga 80 db, sedangkan salinitas permukaan laut berkisar antara 31,2 – 34,5‰ (Tomascik et al. 1997 a).  Nontji (1993) mengatakan bahwa suhu permukaan perairan Indonesia berkisar antara 28 – 31oC dan di Laut Banda pada saat upwelling, suhu turun sampai 25oC.   Hal ini disebabkan karena massa air dingin dari lapisan bawah terangkat ke lapisan atas.  Ilahude and Gordon (1996) mengatakan bahwa suhu permukaan bagian sentral Laut Banda pada musim timur berkisar antara 25,7 – 26,1oC dengan salinitas 34,1 – 34,4‰ sedangkan musim barat suhu berkisar antara 29,6 – 30,3oC dan salinitas 34,5‰.
Sebaran konsentrasi nutrien perairan Indonesia menunjukkan suatu karakteristik perairan tropis, dimana konsentrasinya rendah pada lapisan permukaan.  Menurut Wyrtki (1961), untuk perairan Asia Tenggara, konsentrasi fosfat di bagian permukaan kurang dari 0,2 mg-at/l, dan selanjutnya meningkat hingga 1,5 mg-at/l pada lapisan diskontinyu, sedangkan untuk lapisan dalam, konsentrasi fosfat berkisar antara 2,5 – 3,0 mg-at/l.  Delsman (1939) yang dikutip oleh Wyrtki (1961) mengatakan konsentrasi fosfat Laut Jawa kira-kira 0,08 mg-at/l dengan fluktuasi antara 0,03 dan 0,012 mg-at/l di dekat permukaan dan memiliki nilai yang agak lebih tinggi di dekat dasar perairan yakni antara 0,08 – 0,15 mg-at/l dengan rata-rata 0,12 mg-at/l.

V. HUBUNGAN ANTARA FAKTOR OSEANOGARFI DAN PRODUKTIVITAS PRIMER PERAIRAN INDONESIA

Perairan Indonesia yang merupakan bagian dari laut tropik dicirikan oleh cukup tersedia cahaya matahari namun memiliki konsentrasi nutrien rendah. Keadaan ini mengakibatkan produktivitasnya sangat rendah.  Seperti halnya dengan laut tropik, laut lepas merupakan bagian dari badan perairan bahari yang memiliki laju produktivitas rendah.  Menurut Valiela (1984), laut terbuka yang luasnya 90 % dari laut dunia memiliki laju produktivitas yang rendah bila dibandingkan dengan lingkungan laut lainnya, misalnya perairan pantai, dimana produktivitasnya melebihi 60 % dari produktivitas yang ada di laut. 
Laju produksi primer di lingkungan laut ditentukan oleh berbagai faktor fisika antara lain:
1.  Upwelling
Tingginya produktivitas di laut terbuka yang mengalami upwelling disebabkan karena adanya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan tercampur yang dihasilkan melalui proses pengangkatan massa air dalam. Seperti yang dikemukakan oleh Cullen et al. (1992) bahwa konsentrasi klorofil-a dan laju produktivitas primer meningkat di sekitar ekuator, dimana terjadi aliran nutrien secara vertikal akibat adanya upwelling di daerah divergensi ekuator.
Beberapa daerah-daerah perairan Indonesia yang mengalami upwelling akibat pengaruh pola angin muson adalah Laut Banda, dan Laut Arafura (Wyrtki, 1961 dan Schalk, 1987), Selatan Jawa  dan  Bali ( Hendiarti dkk, 1995 dan Bakti, 1998), dan Laut Timor (Tubalawony, 2000).
Berdasarkan pengamatan sebaran konsentrasi klorofil-a di Laut Banda dan Laut Aru diperoleh bahwa konsentrasi klorofil-a tertinggi dijumpai pada Musim Timur, dimana pada saat tersebut terjadi upwelling di Laut Banda, sedangkan klorofil-a terendah dijumpai pada Musim Barat.  Pada saat ini di Laut Banda tidak terjadi upwelling dalam skala yang besar sehingga nilai konsentrasi nutrien di perairan lebih kecil.  Perairan Banda (Vosjan and Nieuwland, 1987) pada Musim Timur terdapat 2 (dua) periode “bloom” fitoplankton, pertama pada bulan Juni dan kedua di bulan Agustus/September.  Selanjutnya Nontji (1975), dari hasil studi distribusi klorofil-a di Laut Banda pada fase akhir di bulan September diperoleh bahwa konsentrasi klorofil tertinggi di bagian timur Laut Banda, khususnya di sekitar Pulau Kei dan Tanimbar. Juga dikatakan bahwa 60% dari klorofil-a tersebut berada pada kedalaman 25 m. Hendiarti dkk. (1995) mendapatkan bahwa pada Musim Timur di perairan selatan Pulau Jawa-Bali dimana terjadi upwelling, rata-rata konsentrasi klorofil-a sebesar 0,39 mm/l dan pada Musim Barat sekitar 0,18 mm/l. 
2. Percampuran Vertikal Massa Air
Percampuran vertikal massa air sangat berperan di dalam menyuburkan kolom perairan yaitu dengan cara mengangkat nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan. Dengan meningkatnya nutrien pada lapisan permukaan dan dibantu dengan penetrasi cahaya matahari yang cukup di dalam kolom perairan dapat meningkatkan laju produktivitas primer melalui aktivitas fotosintesa fitoplankton. Chaves and Barber (1987) mengatakan bahwa masukan nutrien terutama untuk mengoptimalkan konsentrasi NO3 pada lapisan permukaan dan secara relatif meningkatkan produksi baru.
Percampuran massa air secara vertikal dipengaruhi oleh tiupan angin.  Pada saat Musim Timur di perairan Indonesia bertiup angin Muson Tenggara yang mengakibatkan sebagian besar perairan Indonesia Timur mengalami pergolakan yang mengakibatkan terjadinya percampuran massa air secara vertikal.  Tubalawony (2000) berdasarkan data ekspedisi Baruna Jaya pada musim timur tahun 1991 mendapatkan adanya percampuran vertikal massa air di  perairan lepas pantai Laut Timor yang umumnya lebih dangkal.  Akibatnya kandungan klorofil-a di dalam kolom perairan  umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan bagian lain dari perairan Laut Timor. 
3. Percampuran Massa Air secara Horisontal
Sistem angin muson dan arlindo juga mempengaruhi pola sirkulasi massa air di Perairan Indonesia.  Sistem ini mengakibatkan terjadinya percampuran antara dua massa air yang berbeda di suatu perairan.  Misalnya pada saat Musim Timur, massa air dari Lautan Pasifik akan bertemu dengan massa air Laut Banda yang mengalami upwelling atau pada saat bertiup angin muson tenggara terjadi penyebaran massa air perairan Indonesia Timur ke perairan Indonesia bagian barat dan sebaliknya terjadi pada saat bertiup angin muson barat laut. Dengan demikian sirkulasi massa air dan percampuran massa air akan mempengaruhi produktivitas primer suatu perairan.  Tingginya produktivitas suatu perairan akan berhubungan dengan daerah asal dimana massa air di peroleh.  Nontji (1974) dalam Monk et al. (1997) mengatakan bahwa rata-rata konsentrasi klorofil-a di perairan Indonesia kira-kira 0,19 mg/m3 dan 0,16 mg/m3 selama Musim Barat, dan 0,21 mg/m3 selama Musim Timur.
Selain beberapa faktor fisik di atas, keberadaan lapisan termoklin sangat mendukung tingginya laju produktivitas produksi primer. Bagian bawah dari lapisan tercampur atau bagian atas dari lapisan termoklin merupakan daerah yang memiliki konsentrasi nutrien yang cukup tinggi sehingga dapat merangsang meningkatnya produktivitas primer.  Lapisan termoklin yang dangkal lebih berperan dalam menunjang produktivitas perairan.  Karena pada saat terjadinya proses percampuran vertikal, nutrien pada lapisan termoklin lebih mudah mencapai lapisan permukaan tercampur jika dibandingkan dengan lapisan termoklin yang lebih dalam.  Beberapa penelitian tentang produktivitas primer dalam kaitannya dengan keberadaan massa air menyimpulkan bahwa kedalaman dimana konsentrasi klorofil-a maksimum adalah pada bagian batas atas lapisan termoklin.  Matsuura et al. (1997) dari hasil pengamatannya di timur laut Lautan Hindia mendapatkan bahwa konsentrasi klorofil-a pada lapisan permukaan tercampur sangat sedikit dan mulai meningkat menuju bagian bawah dari lapisan permukaan tercampur dengan konsentrasi maksimum terdapat pada kedalaman kira-kira 75 – 100 m. Sedangkan Hendiarti dkk. (1995) mengatakan bahwa konsentrasi maksimum klorofil-a di perairan selatan Pulau Jawa – Bali berada pada kedalaman 20 m pada Musim Timur dan 80 m pada Musim Barat. Umumnya kedalaman tersebut merupakan batas atas lapisan termoklin.

VI.  KESIMPULAN


Karaktersitik massa air perairan Indonesia umumnya dipengaruhi oleh sistem angin muson yang bertiup di wilayah Indonesia dan adanya arus lintas Indonesia (arlindo) yang membawa massa air Lautan Pasifik Utara dan Selatan menuju Lautan Hindia.  Pengaruh tersebut mengakibat suhu permukaan perairan Indonesia lebih dingin dengan salinitas yang lebih tinggi sebagai pengaruh terjadinya upwelling di beberapa daerah selama musim timur dan juga akibat dari masuknya massa air Lautan Pasifik, sedangkan pada musim barat, suhu permukaan perairan lebih hangat dengan salinitas yang lebih rendah. Rendahnya salinitas akibat pengaruh massa air dari Indonesia bagian barat yang banyak bermuara sungai-sungai besar.
Selama musim timur, dibeberapa bagian dari perairan Indonesia mengalami upwelling dan percampuran massa air yang mengakibatkan terjadinya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan tercampur dan mengakibatkan tingginya produktivitas primer perairan bila dibandingkan dengan musim barat.
Faktor-faktor oseanografi yang sangat berperan dalam mendukung tingginya produktivitas perairan Indonesia adalah upwelling, percampuran massa air secara vertikal dan horisontal, yang terjadi sebagai akibat adanya sistem pola angin muson yang bertiup di wilayah Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Bakti, M. Y., 1998. Dinamika Perairan di Selatan Jawa Timur – Bali pada Musim Timur 1990. Tesis. Institut Pertanian Bogor.

Brown, J., A. Colling, D. Park, J. Phillips, D. Rothery, J. Wright, 1989. Ocean Chemistry and Deep Sea Sediments. Open University.

Chavez, F. P., and R. T. Barber, 1987. An Estimate of New Production in the Equatorial Pacific. Deep-Sea Res., 34:1229-1243.

Cullen, J. J., M. R. Lewis, C. O. Davis, and R. T. Barber, 1992. Photosynthetic Characteristics and Estimated Growth Rates Incate Grazing is the Proximate Control of Primary Production in the Equatorial Pacific. J. Geophys. Res., 97 (C1): 639 – 654.

Fieux, M., C. Andrie, E. Charriaud, A. G. Ilahude, N. Metzl, R. Molcard, and J. C. Swallow, 1996 a. Hydrological and Chlorofluoromenthane Measurements of the Indonesian Throughflow Entering the Indian Ocean. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,433 – 12,454.

Fieux, M., R. Molcard, and A. G. Ilahude, 1996 b. Geostrophic Transport of the Pacific – Indian Oceans Througflow. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,421 – 12,432.

Gordon, A., 1986. Interocean Exchange of Thermocline Water. J. Geophys. Res., 91, 5037 – 5046.

Gordon, A. L., A. Ffield, and A. G. Ilahude, 1994. Thermocline of the Flores and Banda Seas. J. Geophys. Res., 99, 18,235 – 18,242.

Hendiarti, N., S. I. Sachoemar, A. Alkatiri, dan B. Winarno, 1995. Pendugaan Lokasi Upwelling di Perairan Selatan P. Jawa – Bali Berdasarkan Tinjauan Parameter Fisika Oceanografi dan Konsentrasi Klorofil-a. Prosiding Seminar Kelautan Nasional 1995. Panitia Pengembangan Riset dan Teknologi Kelautan serta Industri Maritim, Jakarta.

Ilahude, A. G., and A. L. Gordon, 1996. Thermocline Stratification within the Indonesian Seas. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,401 – 12,420.

Levinton, J. S., 1982. Marine Ecology. Printice – Hall inc.

Lukas R., and E. Lindstrom, 1991. The Mixed Layer of the Western Equatorial Pacific Ocean. J. Geophys. Res., 96: 3343 – 3357.

Matsuura, M., T. Sugimoto, M. Nakai, and S. Tsuji, 1997. Oceanographic Conditions near the Spawning Ground of Southern Bluefin Tuna: Northeastern Indian Ocean. J. Oceanogr., 53: 421 – 433.
McPhaden, and S. P. Hayes, 1991. On the Variability of Winds, Sea Surface Temperature, and Surface Layer Heat Content in the Western Wquatorial Pacific. J. Geosphys. Res. 96: 3331 – 3342.

Molcard, R., M. Fiuex, and A. G. Ilahude, 1996. The Indo – Pacific Throughflow in the Timor Passage. J. Geophys. Res., 101 (C5): 12,411 – 12,420.

Monk, K. A., Y. de Fretes, and G. Reksodiharjo-Lilley, 1997. The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. The Ecology of Indonesia Series. Vol. V. Periplus Editions.

Naulita, J., 1998. Karakteristik Massa Air Pada Perairan Lintasan Arlindo. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Nontji, A., 1975. Distribution of Chlorophyll-a in the Banda Sea by the End of Upwelling Season. Marine Research in Indonesia, 14:49-59.

Nontji, A., 1993. Laut Nusantara. Penerbit Jembatan, Jakarta.

Parsons, T. R., M. Takashi, and B. Hargrave, 1984. Biological Oceanography Process. Third Edition. Pergamon Press, New York.
Schalk, P. H., 1987. Monsoon – Related Changes in Zooplankton Biomass in the Eastern Banda Sea and Aru Basin. Biol. Oceanogr., 5: 1 – 12.

Tisch, T. D., S. R. Ramp, and C. A. Collins, 1992. Observations of the Geostrophic Current and Water Mass Characteristics off Point Sur, California, From May 1988 through November 1989, J. Geophys. Res. 97 (C8): 12,355 – 12,555.

Tomascik, T., A. J. Mah, A. Nontji, and M. K. Moosa, 1997 a. The Ecology of the Indonesian Seas. Part One. The Ecology of Indonesian Series. Vol. VII. Periplus Editions (HK) Ltd.

Tomascik, T., A. J. Mah, A. Nontji, and M. K. Moosa, 1997 b. The Ecology of the Indonesian Seas. Part Two. The Ecology of Indonesian Series. Vol. VIII. Periplus Editions (HK) Ltd.

Tubalawony, S., 2000. Karakteristik Fisik-Kimia dan Klorofil-a Laut Timor. Tesis. Institut Pertanian Bogor.

Valiela, I., 1984. Marine Ecological Processes. Library of Congress Catalogy in Publication Data, New York, USA.

Vosjan, J. H., and G. Nieuwland, 1987. Microbial Biomass and Respiratory Activity in the Surface Waters of the East Banda Sea and Northwest Arafura Sea (Indonesia) at the Time of the Southeast Monsoon. Limnol. Oceanogr. 33 (3): 767 – 775.

Wyrtki, K., 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asean Waters, NAGA Rep. 2. Scripps Inst. of  Oceanography La jolla, Calif.

Jumat, 19 Agustus 2011

Menghitung mundur kemenangan yang ada di depan mata

Tahun ini memang penuh warna dalam hidupku.
Tahun yang dihisai oleh hari-hari yang penuh warna.
Warna yang dapat membuatku sedih, murung, hingga tersenyum bahagia.
Mungkin tak banyak orang yang tau apa yang aku rasakan.
Karena, aku selalu membungkus diri ini dengan senyuman, tawa, dan tindakan konyol.
Awal tahun ini sebuah jalan setapak telah aku ambil.
Jalan setapak yang membuat aku merelakan sesuatu yang telah menemaniku dalam waktu yang lama.
Jalan setapak yang mengajari aku sedikit arti dari kata ikhlas dan sabar.
Jalan setepak yang merubah hidup ini sedikit lebih baik dari tahun sebelumnya.
Aku tidak mau munafik, meskipun jalan ini telah merubah sedikit hidupku.
Aku takan pungkiri, bahwa ada dampak negatif yang tersisa akibat jalan ini.
Sesuatu yang berhasil membuatku menjadi orang yang tidak berguna untuk beberapa saat.
Tapi kini, karena jalan ini aku mulai bangkit dan merintis untuk sesuatu yang indah di masa depanku.
Tahun ini menjadi lebih berwarna karena hadirnya seorang pembawa warna dalam hatiku.
Orang yang berhasil mewarnai hari-hari dalam tahun ini.
Meskipun begitu, aku takan berharap banyak terhadap sang pembawa warna.
Dan tidak akan memaksa kepada sang pembawa warna untuk memberikan sesuatu yang lebih.
Karena, cukup dengan kehadirannya hidupku sudah berhasil dia warnai.
Meskipun hati ini menginginkannya, tapi aku tak akan memaksanya.
Karena dia memiliki jalan setapak pilihannya sendiri.
Jalan setapak yang penuh warna nan indah.
Jalan setapak untuk menuju kemenangannya.
Aku hanya bisa memohon kepada sang kuasa,
"Agar jalan setapak yang telah aku pilih dan dia pilih adalah jalan setapak yang terbaik".
Aku akan berusa keras di jalan setapak ini,
"Agar kemenangan di depan mata dapat aku hitung mundur dengan cepat".
Selasa, 16 Agustus 2011

Mental Kaya vs Mental Miskin

BY JAMILAZZAINI
Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang mengaku milyarder tetapi pelit?
Saya sering bertemu dengan orang-orang seperti itu. Ketika makan di restoran selalu minta dibayarin. Ketika diminta sumbangan, berbagai alasan penolakan mengalir dari mulutnya. Menurut saya orang seperti ini walau kaya harta tetapi bermental miskin.

Selain pelit, orang bermental miskin selalu fokus pada dirinya. Untuk urusan dirinya ia akan “vermak” habis. Mereka rela membayar mahal busana dan asesoris yang melekat di tubuhnya untuk memperbaiki penampilannya. Demi citra dan penampilan dirinya mereka boros. Tetapi ketika menyangkut urusan orang lain, sekali lagi, pelitnya setengah mati.

Suatu saat saya melihat orang jenis ini dijatuhkan harga dirinya secara halus oleh Allah, Yang Maha Kuasa. Seorang janda kaya di suatu komplek perumahan ketahuan ikut antri untuk menerima bantuan pendidikan. Ia orang berpunya namun bersedia antri untuk bantuan yang nilainya tak seberapa, karena satu alasan, “Saya kan janda.” Mental miskin telah menjatuhkan harga dirinya, tanpa ia sadari.

Di sisi lain saya juga sering melihat orang biasa yang rela dan bersedia menolong banyak orang. Hidupnya sederhana namun hatinya berlimpah dan kebahagian melingkupi kehidupannya. Bukan hanya itu, merekapun terhormat di mata masyarakat. Orang seperti ini, menurut saya, walaupun tidak kaya tapi bermental kaya.

Saya teringat pertanyaan guru saya dulu,
“Jamil sedekah mana yang paling baik seribu atau seratus ribu rupiah?”
Ketika itu saya langsung menjawab,
“Seratus ribu lebih baik.”

Dengan tersenyum guru saya menjelaskan,
“Belum tentu, bila seribu dikeluarkan oleh orang yang berpenghasilan dua ribu dan seratus ribu dikeluarkan oleh orang berpenghasian sepuluh juta tentu seribu itu lebih baik.”

Maka, milikilah mental kaya mulai sekarang. Memiliki mental kaya tidak harus menunggu kaya. Bagilah apa yang Anda miliki saat ini untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang di sekitar Anda.

Kami, melalui program Satu Orang Satu, mengajak Anda dan orang-orang menjadi orang bermental kaya. Filosofi program ini sederhana, setiap Anda memperoleh satu kebaikan lakukanlah satu kebaikan kepada orang lain. Misalnya, setiap bisnis Anda buka satu cabang, bantulah satu orang lain untuk mentas dari kemiskinan. Atau, setiap Anda mendapat satu order bisnis, Anda memberi makan satu keluarga. Informasi lebih lengkap bisa diakses di website: www.satuorangsatu.com, twitter: @satuorangsatu #1orang1, berita: Terima Satu maka Berilah Satu…

Percayalah, semakin Anda bermental kaya kehidupan Anda akan semakin kaya; kaya penghormatan, kaya kebahagiaan, dan boleh jadi juga benar-benar kaya harta. Sebaliknya, jika Anda bermental miskin maka jangan heran bila orang lain memperlakukan Anda sebagai orang yang hidupnya tidak punya martabat.

Salam SuksesMulia!
Senin, 15 Agustus 2011

Aku ukir kembali kebahagiaan masa depan.


Dimulai rencana jangka pendek untuk menuju rencana jangka panjang.
Perubahan harus ada jika ingin kebahagian datang.
Kini diriku tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, jika ditanya seseorang
“mau kemana kau setelah lulus kuliah?”
dengan nada yakin dan tidak yakin aku menjawab
“kita liat saja nanti, anggap saja seperti air yang  mengalir”
Itu merupakan kata-kata dari seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan dipastikan tidak akan memiliki masa depan yang cerah dan jauh dari kesuksesan.
Anehnya beberapa waktu silam ketika perkataan yang sama dilontarkan, aku bisa menjawab dengan optimis bahkan hingga sedetail mungkin. Semua seperti sudah didesain dalam otakku, kemana kaki ini akan melangkah untuk mencapai tujuan hidup.
Tetapi kini, kaki ini bak kehilangan mata sehingga tidak tau akan kemana kaki ini melangkah.
Semua terlihat gelap dan suram tanpa cahaya sedikitpun.
“Berharap seperti air yang dapat segera masuk kealiran sungai, sehingga dapat mengikuti arus yang deras”.
Ku ingin semuanya kembali seperti dulu, impian dan semangat yang hilang dapat segera kembali.
Impian dan semangat yang hilang tidak akan kembali, jika aku tidak memulainya kembali dari awal. Semuanya harus ku susun dari awal, ku urutkan kembali serpihan-serpihan mimpi itu agar menjadi kenyataan di masa depan.
Kerja keras mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mendapatkan kembali mimpi-mimpi itu.
Mimpi yang dapat merangkai tujuan hidupku, mimpi yang telah lama ku lupakan.
Keputusan paling berat dalam hidupku terakhir yang aku lakukan adalah meninggalkan orang yang aku sayang untuk kebahagiannya dan kini ku harus mengambil keputusan yang berat dalam hidupku kembali
“yaitu dengan menunda kebahagiaanku saat ini, untuk aku dan kebahagiaan masa depanku.”
Aku ingin menjadi pria sukses untuk diriku, orang tuaku, keluargaku, dan seseorang dimasa depanku nanti.

PEMBENIHAN IKAN HIAS CORYDORAS

1. Pendahuluan
Corydoras merupakan jenis ikan hias air tawar yang banyak diminati hobiis ikan hias dan memiliki peluang ekspor yang baik. Selain digunakan sebagai ikan hias air tawar, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kosmetik di negara maju. Permintaan ikan corydoras dari beberapa negara Eropa dan Asia cukup tinggi yaitu sebanyak 10.000 – 20.000 ekor/bulan, akan tetapi permintaan tersebut belum mampu dipenuhi produksi dalam negeri. Hal ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas para pembudidaya yang masih menggunakan sistem tradisional dengan padat penebaran yang rendah, yaitu kurang dari 3 ekor/liter yang dipelihara pada bak-bak semen di luar ruangan. Upaya intensifikasi budidaya ikan corydoras dapat dilakukan dengan meningkatkan padat penebaran dan pengelolaan lingkungan perairan yang baik dengan sistem resirkulasi. Kepadatan yang optimal dapat memaksimalkan produksi. Penentuan kepadatan yang optimal merupakan langkah awal yang penting pada kegiatan budidaya. Ikan ini berasal dari sungai Amazon Brazil, Amerika Selatan.  Meskipun berasal dari sungai Amazon tetapi ikan ini sudah dapat dibudidayakan di Indonesia.
Gambar 1. Ikan Corydoras Sterbae
2. Ciri Morfologi
Bentuk tubuh pendek dan gemuk, punggung lebih melengkung dibandingkan dengan perut, kedua sisi ikan dilengkapi dengan lempengan seperti tulang yang tersusun dalam dua baris, mempunyai dua pasang kumis yang terletak di rahang atas dan rahang bawah serta ukuran tubuh dapat mencapai 12 cm.
Ikan Corydoras dapat dibudidayakan di kolam yang kandungan oksigen di dalam airnya rendah. Kondisi lingkungan cocok untuk jenis ikan ini adalah: pH 6-8, suhu 21.5-28oC.

3. Prasarana dan Sarana
Dalam pemeliharaan ikan Corydoras diperlukan sarana berupa bahan dan alat, yaitu :
a. Induk ikan Corydoras betina dan jantan
b. Wadah pemeliharaan berupa :
~ Bak pemeliharaan induk jantan dan betina secara masal, sekaligus sebagai tempat pemijahan, atau akuarium yang berukuran 60x40x40 cm.
~ Bak pemeliharaan larva dan benih secara masal
c. Pakan
~ Pakan induk, larva, dan pembesaran berupa cacing tubifex.

4. Kegiatan Operasional
4.1 Pemeliharaan Induk
Ikan Corydoras mulai dapat dipijahkan minimal pada umur 6 - 8 bulan. Pakan yang terbaik diberikan karena Corydoras bersifat 'bottom feeder' maka ikan ini lebih responsif pada jenis makanan seperti cacing tubifex.
Cara termudah untuk membedakan jenis kelamin adalah dengan melihat bentuk tubuh. Ikan jantan mempunyai bentuk tubuh seperti terpedo, bagian dari belakang insang meruncing hingga ke ekor. Tubuh lebih langsing dan ukurannya lebih kecil daripada betina, dan sirip dorsal ikan jantan terlihat lebih runcing. Tubuh ikan betina berukuran lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan, dan perutnya yang tampak membundar berisi telur.
4.2. Pemijahan
Pemijahan dilakukan secara masal di bak semen, bak fiber atau akuarium dengan perbandingan induk betina : jantan l : 2 atau 1:1. Penggantian air dilakukan setiap 2-3 hari sekali sebanyak 1/5 dari volume air sebelumnya, untuk menjaga kualitas air media pemijahan.
Tingkahlaku pemijahan yang dilakukan corydoras berbeda dengan ikan ovipar lainnya, ikan betina akan menelan sperma dari sang jantan sehingga pembuahan terjadi didalam perut betina. Setelah dibuahi telur kemudian dikeluarkan dan ditempelkan disubstrat atau tempat yang menurut induk betina aman.
Sifat telur corydoras adalah menempel sehingga dibutuhkan suatu substrat yang keras seperti : lempengan kaca, potongan paralon (PVC), ubin keramik atau lempengan batu.
Ikan Corydoras mengeluarkan telurnya secara parsial, sehingga setiap hari dapat ditemukan substrat yang ditempeli telur. Setiap induk mampu menghasilkan 200-350 butir telur. Selanjutnya substrat yang dipasang diambil untuk ditetaskan pada wadah penetasan telur.
4.3. Penetasan telur
Telur yang menempel pada substrat selanjutnya ditetaskan di dalam akuarium atau dibaskom bervolume 5 liter dengan ketinggian air 10 cm. Telur akan menetas dalam waktu enam hari. Selama penetasan telur, media pemeliharaan diberi obat anti jamur antara lain methylene blue 0.1 ppm. Derajat penetasan telur berkisar 60-70%. Larva ikan Corydoras dipelihara di akuarium tersebut sampai berumur tujuh hari dengan pemberian pakan berupa tubifex.
4.4. Tahap Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan pada wadah berupa fiber glass atau bak semen sampai ukuran S (Small=kecil) dengan padat penebaran 20-30 ekor/liter. Selama satu Bulan mencapai ukuran M (Medium=sedang) yaitu dengan padat penebaran 10-15/liter dan siap untuk dipasarkan.
Pemeliharaan selanjutnya lebih diarahkan ke pengadaan calon induk, karena biasanya pada ukuran L (Large=besar) permintaan pasar cenderung menurun. Padat penebaran pada masa pemeliharaan dari ukuran M ke ukuran L adalah 5 ekor/liter.
Pakan yang diberikan selama pemeliharaan ikan sampai siap dipasarkan berupa cacing tubifex.
4.5. Pengelolaan Kesehatan Ikan
Beberapa jenis parasit yang sering menyerang ikan Corydoras ini adalah : Trichodina sp, Epistylis, Glossatella sp dan Chillodonella sp. Sedangkan bakteri yang menyerang biasanya merupakan infeksi sekunder yang terjadi akibat luka karena penanganan, atau serangan parasit yang mengakibatkan terjadinya luka. Jenis bakteri yang ditemukan adalah Aeromonas hydrophilla.
Pengobatan yang dilakukan untuk penyakit parasit adalah menggunakan formalin 25 ppm, garam 500 ppm. Sedangkan untuk penyakit bakterial menggunakan Oxytetracycline 10 ppm dengan cara perendaman.

Tinjauan Pustaka
bbat-sukabumi.tripod.com/corydoras
Kurniawan. 2009. Pembenihan Ikan Corydoras Sterbae. Bogor.
Kamis, 11 Agustus 2011

MAKALAH IKAN MUGIL


I.  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Biologi perikanan di Indonesia merupakan relatif masih baru. Biologi perikanan mencakup biologi ikan, dimana penekanannya terhadap spesies penting sebagai sumberdaya. Biologi perikanan merupakan studi mengenai ikan sebagai sumberdaya yang dipanen manusia sehingga dalam pengelolaan harus memperhatikan kelestarian sumberdaya perikanan tersebut sehingga diharapkan dapat membuat rekomendasi dalam pemanfaatan serta perbaikannya.
Pengelolaan sumberdaya yang lebih efektif, tepat dan hasilnya optimum dengan biaya murah  maka harus dapat menciptakan peraturan-peraturan atau alternatif untuk diajukan kepada pemerintah sebagai dasar pengambilan keputusan, peraturan atau alternatif mana yang akan digunakan untuk dilaksanakan dalam melestariakan dan menjaga sumberdaya tersebut. Tujuan yang terkandung dalam biologi perikanan diantaranya merupakan suatu usaha agar orang yang mempelajarinya mengerti dan memahami sumberdaya perikanan serta bagaimana pemanfaatan sumberdaya tersebut secara optimum dan membuat rekomendasi dalam pemanfaatan serta perbaikannya.
Ikan mugil merupakan ikan yang belum banyak dibudidaya dan belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga perlu dipelajari lebih dalam lagi mengenai biologi ikan mugil. Tujuan pembuatan makalah ini agar pembaca dan masyarakat luas dapat lebih mengetahui biologi ikan mugil lebih jelas.

II. ISI IKAN BELANAK (Liza subviridis)

2.1. Klasifikasi
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Order: Mugiliformes
Family: Mugilidae
Genus : Liza
Spesies : Liza subviridis

Gambar 1. Ikan Belanak (Liza subviridis)

2.2. Deskripsi
Ikan dari suku Mugilidae ini di dunia dikenal sebagai ikan Mullets dan mempunyai banyak nama lokal diantaranya sebagai ikan gadah, bale belana, jumpul, goru, rapang dan gadeh. Biasa hidup mulai dari muara sungai, pelabuhan, dermaga dan pantai. Jarang berada terlalu jauh dari pantai. Merupakan ikan bentopelagik (hidup didasar sampai permukaan air) dan bergerombol dalam jumlah banyak.
Ikan belanak merupakan ikan yang habitatnya berasal dari air laut. Jenis-jenis ikan belanak diperairan pantai Indonesia digolongkan kedalam Genus Mugil (Djuahanda, 1981). Warna : Bagian belakang berwarna kehijau-hijauan atau abu-abu kecoklatan, pada bagian sisi dan perut berwarna keperakan; pinggiran belakang sirip ekor berwarna hitam; pada permulaan sirip dada terdapat spot biru Moolgarda delicatus. Ikan belanak bersisik cycloid atau ctenoid, bisa dengan jari-jari kecil di tepinya atau tidak, ujung rahang atas melengkung ke bawah dan terlihat pada saat mulutnya tertutup.
Famili Mugillidae merupakan ikan yang mempunyai prospek yang paling baik untuk dijadikan ikan budidaya diantara ikan laut dan air payau. Dilihat dari segi pemasaran Ikan belanak banyak disukai masyarakat baik sebagai ikan segar atau sebagai ikan yang telah diawetkan secara tradisional. Ikan ini merupakan ikan yang senang hidup bergerombol dekat pantai dan perairan yang dangkal, mempunyai kebiasaan melompat-lompat untuk menghindari predator. Ikan ini memeliki berat kurang dari 0,5 kg. Habitat ikan Liza subviridis di sekitar pantai yang termasuk payau ikan ini juga dapat hidup diair tawar. Penyebaran ikan belanak, sangat luas (all tropical and temperate seas) meliputi ; Indo-Pacific, laut merah, jepang bagian utara, dan afrika selatan.






2.3. Food Habit

Hasil identifikasi terhadap jenis makanan yang terdapat dalam lambung Liza subviridis ditemukan beberapa jenis alga yaitu Microcystis aeruginosa, Nitzschia seriata, Zygnema pectinatum, dan Closterium parvulum. Ikan ini dapat digolongkan herbivore A yaitu jenis ikan yang memakan bahan tumbuhan yang hidup di air atau di dalam lumpur seperti alga, hifa jamur, alga biru dalam beberapa kasus khusus perutnya berisi sejumlah detritus yang termakan secara tidak sengaja (Firhansyah, 2005).
Belanak suka memakan klekap (lumut) dan bahan organik di dasar muara sungai. Hasil penelitian mengenai isi perut ikan belanak, yaitu dengan cara mengambil isi perut ikan belanak dan diberi formalin 40%, kemudian dianalisa secara visual dan mikroskop. Pengetahuan isi perut ikan berhubungan dengan komposisi pakan yang diberikan bila dibudidayakan di kolam. Komposisi pakan yang baik adalah mengadopsi dengan kebiasaan di alam. Ikan yang biasa memakan serat/ bahan nabati kalau diberi pakan terlalu banyak daging/ bahan hewani tentu berakibat buruk bagi pencernaannya, demikian pula sebaliknya. Hasilnya, di dalam perut ikan belanak terdapat juga pasir, berbagai jenis lumut, berbagai jenis plankton baik fitoplankton maupun zooplankton dan hewan moluska seperti cacing dan sejenis jeroan kece (tiram sungai). Hal ini menandakan ikan ini adalah golongan ikan omnivore dengan kecenderungan herbivore, karena tidak ditemukan daging ikan atau kepiting di dalam perutnya.





2.4. TKG (Tingkat Kematangan Gonad), IKG (Indeks Kematangan Gonad), Fekunditas, Panjang Berat, dan Faktor Kondisi

Ikan belanak jantan dan betina mengalami matang gonad pertama pada ukuran 120 mm dan 140 mm. Histology gonad jantan, pada TKG I ditunjukan dengan adanya spermatogonium, TKG II ditunjukan dengan spermatosit primer yang kemudian berkembang menjadi spermatosit sekunder pada TKG III, pada TKG IV ditunjukan dengan spermatid dan spermatozoa, dan pada TKG V yang merupakan TKG terakhir dalam perkembangan gonad jantan didominasi oleh spermatosit tetapi sudah muncul spermatogonium. Perkembangan gonad ikan betina, pada TKG I gonad didominasi oleh oogonium kemudian diiringi dengan perkembangan oosit pada TKG II. Pada ukuran sel telur terus berkembang membentuk ootid, kemudian ootid berkembang membentuk ovum (TKG IV), pada TKG V gonad didominasi oleh oosit dan ootid.
Ikan belanak yang telah matang gonad memiliki nilai presentase IKG jantan (1,31% dan 1,17%) maupun betina (12,79% dan 9,69%). Fekunditas ikan belanak dari TKG II dan IV berkisar 27.117 – 323.200 butir. Ikan belanak memiliki panjang rata 190 – 230 mm dengan berat kurang dari 0,2 kg (200 g), ukuran tersebut dapat dicapai dengan waktu 3 bulan. Menurut Silva dan de Silva (1981) faktor kondisi ikan belanak di Perairan Negombo, Srilangka mencapai nilai maksimum 1,2 pada jantan dan 1,14 untuk betina.




DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, T. 1981. Dunia ikan. Armico Bandung. 190 halaman.
Firhansyah. 2005. Pola Kebiasaan Makanan (Food Habits) Famili Mugilidae Yang Tertangkap Dengan Pukat Pantai (Beach Seine) di Muara Sungai Hanyar Desa Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan.
Jannah dan Mia Rahmatul. 2001. Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Ikan Belanak Mugil dussumieri di Perairan Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur.http://iirc.ipb.ac.id.

Silva and de Silva, 1981. Aspect of biology of Grey Mullet, Mugil dussumieri L., adult population of a Coastal Lagoon Sri Langka. Department of Zoologi. Ruhuna University College. Matara. Sri Langka.
Sabtu, 16 Juli 2011

Untuk Seseorang Pembawa Warna


Aku tak tau harus mengartikan apa atas semua yang aku rasakan.
Semua bagaikan sebuah tanda tanya besar, yang menutupi semua jawaban yang aku butuhkan.
Terkadang aku merasa dekat denganmu dan terkadang kau sangat jauh dariku.
Disaat kau dekat denganku, aku bisa tersenyum dan tertawa bahagia.
Namun disaat kau jauh?
Meskipun aku tetap bisa tersenyum dan tertawa,  tetapi seperti ada yang hilang dalam hidup ini.
Kau layaknya matahari yang menyinari separuh kehidupan disaat siang.
Layaknya bulan yang menjadi cahaya diseparuh waktu gelapnya malam.
Kau akan datang dan membuatku tersenyum sejenak, setelah itu akan pergi lagi menghilang dan kembali disaat kau ingin.
Tanpa sengaja kau membuat organ dan alat indraku tidak berfungsi dengan baik.
Hati ini kau buat cemburu kepada mata dan otak, karena mata dapat melihatmu dan otak dapat memikirkanmu setiap saat.
Tetapi apa?
“hati ini tak jua memilikimu”.
Aku tak ingin memaksamu berada dalam sepenuh waktuku, karena itu takan membuatmu bahagia.
Akupun tak ingin kau terlalu lama pergi menghilang, karena itu akan membuatku gelisah.
Aku tak akan mengharapkan lebih, atas apa yang kurasakan saat ini.
Jika kau benar orang yang tepat untukku, aku akan menerimanya dengan penuh kebahagian.
Seandainya hubungan ini hanya sebatas sahabat, itu merupakan lebih dari cukup.
Karena hanya mengenalmu, itu merupakan anugrah terbesar yang diberikan padaku.
Karena kau telah memberikan warna yang berbeda dalam hidup ini.