Jumat, 19 Agustus 2011

Menghitung mundur kemenangan yang ada di depan mata

Tahun ini memang penuh warna dalam hidupku.
Tahun yang dihisai oleh hari-hari yang penuh warna.
Warna yang dapat membuatku sedih, murung, hingga tersenyum bahagia.
Mungkin tak banyak orang yang tau apa yang aku rasakan.
Karena, aku selalu membungkus diri ini dengan senyuman, tawa, dan tindakan konyol.
Awal tahun ini sebuah jalan setapak telah aku ambil.
Jalan setapak yang membuat aku merelakan sesuatu yang telah menemaniku dalam waktu yang lama.
Jalan setapak yang mengajari aku sedikit arti dari kata ikhlas dan sabar.
Jalan setepak yang merubah hidup ini sedikit lebih baik dari tahun sebelumnya.
Aku tidak mau munafik, meskipun jalan ini telah merubah sedikit hidupku.
Aku takan pungkiri, bahwa ada dampak negatif yang tersisa akibat jalan ini.
Sesuatu yang berhasil membuatku menjadi orang yang tidak berguna untuk beberapa saat.
Tapi kini, karena jalan ini aku mulai bangkit dan merintis untuk sesuatu yang indah di masa depanku.
Tahun ini menjadi lebih berwarna karena hadirnya seorang pembawa warna dalam hatiku.
Orang yang berhasil mewarnai hari-hari dalam tahun ini.
Meskipun begitu, aku takan berharap banyak terhadap sang pembawa warna.
Dan tidak akan memaksa kepada sang pembawa warna untuk memberikan sesuatu yang lebih.
Karena, cukup dengan kehadirannya hidupku sudah berhasil dia warnai.
Meskipun hati ini menginginkannya, tapi aku tak akan memaksanya.
Karena dia memiliki jalan setapak pilihannya sendiri.
Jalan setapak yang penuh warna nan indah.
Jalan setapak untuk menuju kemenangannya.
Aku hanya bisa memohon kepada sang kuasa,
"Agar jalan setapak yang telah aku pilih dan dia pilih adalah jalan setapak yang terbaik".
Aku akan berusa keras di jalan setapak ini,
"Agar kemenangan di depan mata dapat aku hitung mundur dengan cepat".
Selasa, 16 Agustus 2011

Mental Kaya vs Mental Miskin

BY JAMILAZZAINI
Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang mengaku milyarder tetapi pelit?
Saya sering bertemu dengan orang-orang seperti itu. Ketika makan di restoran selalu minta dibayarin. Ketika diminta sumbangan, berbagai alasan penolakan mengalir dari mulutnya. Menurut saya orang seperti ini walau kaya harta tetapi bermental miskin.

Selain pelit, orang bermental miskin selalu fokus pada dirinya. Untuk urusan dirinya ia akan “vermak” habis. Mereka rela membayar mahal busana dan asesoris yang melekat di tubuhnya untuk memperbaiki penampilannya. Demi citra dan penampilan dirinya mereka boros. Tetapi ketika menyangkut urusan orang lain, sekali lagi, pelitnya setengah mati.

Suatu saat saya melihat orang jenis ini dijatuhkan harga dirinya secara halus oleh Allah, Yang Maha Kuasa. Seorang janda kaya di suatu komplek perumahan ketahuan ikut antri untuk menerima bantuan pendidikan. Ia orang berpunya namun bersedia antri untuk bantuan yang nilainya tak seberapa, karena satu alasan, “Saya kan janda.” Mental miskin telah menjatuhkan harga dirinya, tanpa ia sadari.

Di sisi lain saya juga sering melihat orang biasa yang rela dan bersedia menolong banyak orang. Hidupnya sederhana namun hatinya berlimpah dan kebahagian melingkupi kehidupannya. Bukan hanya itu, merekapun terhormat di mata masyarakat. Orang seperti ini, menurut saya, walaupun tidak kaya tapi bermental kaya.

Saya teringat pertanyaan guru saya dulu,
“Jamil sedekah mana yang paling baik seribu atau seratus ribu rupiah?”
Ketika itu saya langsung menjawab,
“Seratus ribu lebih baik.”

Dengan tersenyum guru saya menjelaskan,
“Belum tentu, bila seribu dikeluarkan oleh orang yang berpenghasilan dua ribu dan seratus ribu dikeluarkan oleh orang berpenghasian sepuluh juta tentu seribu itu lebih baik.”

Maka, milikilah mental kaya mulai sekarang. Memiliki mental kaya tidak harus menunggu kaya. Bagilah apa yang Anda miliki saat ini untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang di sekitar Anda.

Kami, melalui program Satu Orang Satu, mengajak Anda dan orang-orang menjadi orang bermental kaya. Filosofi program ini sederhana, setiap Anda memperoleh satu kebaikan lakukanlah satu kebaikan kepada orang lain. Misalnya, setiap bisnis Anda buka satu cabang, bantulah satu orang lain untuk mentas dari kemiskinan. Atau, setiap Anda mendapat satu order bisnis, Anda memberi makan satu keluarga. Informasi lebih lengkap bisa diakses di website: www.satuorangsatu.com, twitter: @satuorangsatu #1orang1, berita: Terima Satu maka Berilah Satu…

Percayalah, semakin Anda bermental kaya kehidupan Anda akan semakin kaya; kaya penghormatan, kaya kebahagiaan, dan boleh jadi juga benar-benar kaya harta. Sebaliknya, jika Anda bermental miskin maka jangan heran bila orang lain memperlakukan Anda sebagai orang yang hidupnya tidak punya martabat.

Salam SuksesMulia!
Senin, 15 Agustus 2011

Aku ukir kembali kebahagiaan masa depan.


Dimulai rencana jangka pendek untuk menuju rencana jangka panjang.
Perubahan harus ada jika ingin kebahagian datang.
Kini diriku tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, jika ditanya seseorang
“mau kemana kau setelah lulus kuliah?”
dengan nada yakin dan tidak yakin aku menjawab
“kita liat saja nanti, anggap saja seperti air yang  mengalir”
Itu merupakan kata-kata dari seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan dipastikan tidak akan memiliki masa depan yang cerah dan jauh dari kesuksesan.
Anehnya beberapa waktu silam ketika perkataan yang sama dilontarkan, aku bisa menjawab dengan optimis bahkan hingga sedetail mungkin. Semua seperti sudah didesain dalam otakku, kemana kaki ini akan melangkah untuk mencapai tujuan hidup.
Tetapi kini, kaki ini bak kehilangan mata sehingga tidak tau akan kemana kaki ini melangkah.
Semua terlihat gelap dan suram tanpa cahaya sedikitpun.
“Berharap seperti air yang dapat segera masuk kealiran sungai, sehingga dapat mengikuti arus yang deras”.
Ku ingin semuanya kembali seperti dulu, impian dan semangat yang hilang dapat segera kembali.
Impian dan semangat yang hilang tidak akan kembali, jika aku tidak memulainya kembali dari awal. Semuanya harus ku susun dari awal, ku urutkan kembali serpihan-serpihan mimpi itu agar menjadi kenyataan di masa depan.
Kerja keras mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mendapatkan kembali mimpi-mimpi itu.
Mimpi yang dapat merangkai tujuan hidupku, mimpi yang telah lama ku lupakan.
Keputusan paling berat dalam hidupku terakhir yang aku lakukan adalah meninggalkan orang yang aku sayang untuk kebahagiannya dan kini ku harus mengambil keputusan yang berat dalam hidupku kembali
“yaitu dengan menunda kebahagiaanku saat ini, untuk aku dan kebahagiaan masa depanku.”
Aku ingin menjadi pria sukses untuk diriku, orang tuaku, keluargaku, dan seseorang dimasa depanku nanti.

PEMBENIHAN IKAN HIAS CORYDORAS

1. Pendahuluan
Corydoras merupakan jenis ikan hias air tawar yang banyak diminati hobiis ikan hias dan memiliki peluang ekspor yang baik. Selain digunakan sebagai ikan hias air tawar, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kosmetik di negara maju. Permintaan ikan corydoras dari beberapa negara Eropa dan Asia cukup tinggi yaitu sebanyak 10.000 – 20.000 ekor/bulan, akan tetapi permintaan tersebut belum mampu dipenuhi produksi dalam negeri. Hal ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas para pembudidaya yang masih menggunakan sistem tradisional dengan padat penebaran yang rendah, yaitu kurang dari 3 ekor/liter yang dipelihara pada bak-bak semen di luar ruangan. Upaya intensifikasi budidaya ikan corydoras dapat dilakukan dengan meningkatkan padat penebaran dan pengelolaan lingkungan perairan yang baik dengan sistem resirkulasi. Kepadatan yang optimal dapat memaksimalkan produksi. Penentuan kepadatan yang optimal merupakan langkah awal yang penting pada kegiatan budidaya. Ikan ini berasal dari sungai Amazon Brazil, Amerika Selatan.  Meskipun berasal dari sungai Amazon tetapi ikan ini sudah dapat dibudidayakan di Indonesia.
Gambar 1. Ikan Corydoras Sterbae
2. Ciri Morfologi
Bentuk tubuh pendek dan gemuk, punggung lebih melengkung dibandingkan dengan perut, kedua sisi ikan dilengkapi dengan lempengan seperti tulang yang tersusun dalam dua baris, mempunyai dua pasang kumis yang terletak di rahang atas dan rahang bawah serta ukuran tubuh dapat mencapai 12 cm.
Ikan Corydoras dapat dibudidayakan di kolam yang kandungan oksigen di dalam airnya rendah. Kondisi lingkungan cocok untuk jenis ikan ini adalah: pH 6-8, suhu 21.5-28oC.

3. Prasarana dan Sarana
Dalam pemeliharaan ikan Corydoras diperlukan sarana berupa bahan dan alat, yaitu :
a. Induk ikan Corydoras betina dan jantan
b. Wadah pemeliharaan berupa :
~ Bak pemeliharaan induk jantan dan betina secara masal, sekaligus sebagai tempat pemijahan, atau akuarium yang berukuran 60x40x40 cm.
~ Bak pemeliharaan larva dan benih secara masal
c. Pakan
~ Pakan induk, larva, dan pembesaran berupa cacing tubifex.

4. Kegiatan Operasional
4.1 Pemeliharaan Induk
Ikan Corydoras mulai dapat dipijahkan minimal pada umur 6 - 8 bulan. Pakan yang terbaik diberikan karena Corydoras bersifat 'bottom feeder' maka ikan ini lebih responsif pada jenis makanan seperti cacing tubifex.
Cara termudah untuk membedakan jenis kelamin adalah dengan melihat bentuk tubuh. Ikan jantan mempunyai bentuk tubuh seperti terpedo, bagian dari belakang insang meruncing hingga ke ekor. Tubuh lebih langsing dan ukurannya lebih kecil daripada betina, dan sirip dorsal ikan jantan terlihat lebih runcing. Tubuh ikan betina berukuran lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan, dan perutnya yang tampak membundar berisi telur.
4.2. Pemijahan
Pemijahan dilakukan secara masal di bak semen, bak fiber atau akuarium dengan perbandingan induk betina : jantan l : 2 atau 1:1. Penggantian air dilakukan setiap 2-3 hari sekali sebanyak 1/5 dari volume air sebelumnya, untuk menjaga kualitas air media pemijahan.
Tingkahlaku pemijahan yang dilakukan corydoras berbeda dengan ikan ovipar lainnya, ikan betina akan menelan sperma dari sang jantan sehingga pembuahan terjadi didalam perut betina. Setelah dibuahi telur kemudian dikeluarkan dan ditempelkan disubstrat atau tempat yang menurut induk betina aman.
Sifat telur corydoras adalah menempel sehingga dibutuhkan suatu substrat yang keras seperti : lempengan kaca, potongan paralon (PVC), ubin keramik atau lempengan batu.
Ikan Corydoras mengeluarkan telurnya secara parsial, sehingga setiap hari dapat ditemukan substrat yang ditempeli telur. Setiap induk mampu menghasilkan 200-350 butir telur. Selanjutnya substrat yang dipasang diambil untuk ditetaskan pada wadah penetasan telur.
4.3. Penetasan telur
Telur yang menempel pada substrat selanjutnya ditetaskan di dalam akuarium atau dibaskom bervolume 5 liter dengan ketinggian air 10 cm. Telur akan menetas dalam waktu enam hari. Selama penetasan telur, media pemeliharaan diberi obat anti jamur antara lain methylene blue 0.1 ppm. Derajat penetasan telur berkisar 60-70%. Larva ikan Corydoras dipelihara di akuarium tersebut sampai berumur tujuh hari dengan pemberian pakan berupa tubifex.
4.4. Tahap Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan pada wadah berupa fiber glass atau bak semen sampai ukuran S (Small=kecil) dengan padat penebaran 20-30 ekor/liter. Selama satu Bulan mencapai ukuran M (Medium=sedang) yaitu dengan padat penebaran 10-15/liter dan siap untuk dipasarkan.
Pemeliharaan selanjutnya lebih diarahkan ke pengadaan calon induk, karena biasanya pada ukuran L (Large=besar) permintaan pasar cenderung menurun. Padat penebaran pada masa pemeliharaan dari ukuran M ke ukuran L adalah 5 ekor/liter.
Pakan yang diberikan selama pemeliharaan ikan sampai siap dipasarkan berupa cacing tubifex.
4.5. Pengelolaan Kesehatan Ikan
Beberapa jenis parasit yang sering menyerang ikan Corydoras ini adalah : Trichodina sp, Epistylis, Glossatella sp dan Chillodonella sp. Sedangkan bakteri yang menyerang biasanya merupakan infeksi sekunder yang terjadi akibat luka karena penanganan, atau serangan parasit yang mengakibatkan terjadinya luka. Jenis bakteri yang ditemukan adalah Aeromonas hydrophilla.
Pengobatan yang dilakukan untuk penyakit parasit adalah menggunakan formalin 25 ppm, garam 500 ppm. Sedangkan untuk penyakit bakterial menggunakan Oxytetracycline 10 ppm dengan cara perendaman.

Tinjauan Pustaka
bbat-sukabumi.tripod.com/corydoras
Kurniawan. 2009. Pembenihan Ikan Corydoras Sterbae. Bogor.
Kamis, 11 Agustus 2011

MAKALAH IKAN MUGIL


I.  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Biologi perikanan di Indonesia merupakan relatif masih baru. Biologi perikanan mencakup biologi ikan, dimana penekanannya terhadap spesies penting sebagai sumberdaya. Biologi perikanan merupakan studi mengenai ikan sebagai sumberdaya yang dipanen manusia sehingga dalam pengelolaan harus memperhatikan kelestarian sumberdaya perikanan tersebut sehingga diharapkan dapat membuat rekomendasi dalam pemanfaatan serta perbaikannya.
Pengelolaan sumberdaya yang lebih efektif, tepat dan hasilnya optimum dengan biaya murah  maka harus dapat menciptakan peraturan-peraturan atau alternatif untuk diajukan kepada pemerintah sebagai dasar pengambilan keputusan, peraturan atau alternatif mana yang akan digunakan untuk dilaksanakan dalam melestariakan dan menjaga sumberdaya tersebut. Tujuan yang terkandung dalam biologi perikanan diantaranya merupakan suatu usaha agar orang yang mempelajarinya mengerti dan memahami sumberdaya perikanan serta bagaimana pemanfaatan sumberdaya tersebut secara optimum dan membuat rekomendasi dalam pemanfaatan serta perbaikannya.
Ikan mugil merupakan ikan yang belum banyak dibudidaya dan belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga perlu dipelajari lebih dalam lagi mengenai biologi ikan mugil. Tujuan pembuatan makalah ini agar pembaca dan masyarakat luas dapat lebih mengetahui biologi ikan mugil lebih jelas.

II. ISI IKAN BELANAK (Liza subviridis)

2.1. Klasifikasi
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Order: Mugiliformes
Family: Mugilidae
Genus : Liza
Spesies : Liza subviridis

Gambar 1. Ikan Belanak (Liza subviridis)

2.2. Deskripsi
Ikan dari suku Mugilidae ini di dunia dikenal sebagai ikan Mullets dan mempunyai banyak nama lokal diantaranya sebagai ikan gadah, bale belana, jumpul, goru, rapang dan gadeh. Biasa hidup mulai dari muara sungai, pelabuhan, dermaga dan pantai. Jarang berada terlalu jauh dari pantai. Merupakan ikan bentopelagik (hidup didasar sampai permukaan air) dan bergerombol dalam jumlah banyak.
Ikan belanak merupakan ikan yang habitatnya berasal dari air laut. Jenis-jenis ikan belanak diperairan pantai Indonesia digolongkan kedalam Genus Mugil (Djuahanda, 1981). Warna : Bagian belakang berwarna kehijau-hijauan atau abu-abu kecoklatan, pada bagian sisi dan perut berwarna keperakan; pinggiran belakang sirip ekor berwarna hitam; pada permulaan sirip dada terdapat spot biru Moolgarda delicatus. Ikan belanak bersisik cycloid atau ctenoid, bisa dengan jari-jari kecil di tepinya atau tidak, ujung rahang atas melengkung ke bawah dan terlihat pada saat mulutnya tertutup.
Famili Mugillidae merupakan ikan yang mempunyai prospek yang paling baik untuk dijadikan ikan budidaya diantara ikan laut dan air payau. Dilihat dari segi pemasaran Ikan belanak banyak disukai masyarakat baik sebagai ikan segar atau sebagai ikan yang telah diawetkan secara tradisional. Ikan ini merupakan ikan yang senang hidup bergerombol dekat pantai dan perairan yang dangkal, mempunyai kebiasaan melompat-lompat untuk menghindari predator. Ikan ini memeliki berat kurang dari 0,5 kg. Habitat ikan Liza subviridis di sekitar pantai yang termasuk payau ikan ini juga dapat hidup diair tawar. Penyebaran ikan belanak, sangat luas (all tropical and temperate seas) meliputi ; Indo-Pacific, laut merah, jepang bagian utara, dan afrika selatan.






2.3. Food Habit

Hasil identifikasi terhadap jenis makanan yang terdapat dalam lambung Liza subviridis ditemukan beberapa jenis alga yaitu Microcystis aeruginosa, Nitzschia seriata, Zygnema pectinatum, dan Closterium parvulum. Ikan ini dapat digolongkan herbivore A yaitu jenis ikan yang memakan bahan tumbuhan yang hidup di air atau di dalam lumpur seperti alga, hifa jamur, alga biru dalam beberapa kasus khusus perutnya berisi sejumlah detritus yang termakan secara tidak sengaja (Firhansyah, 2005).
Belanak suka memakan klekap (lumut) dan bahan organik di dasar muara sungai. Hasil penelitian mengenai isi perut ikan belanak, yaitu dengan cara mengambil isi perut ikan belanak dan diberi formalin 40%, kemudian dianalisa secara visual dan mikroskop. Pengetahuan isi perut ikan berhubungan dengan komposisi pakan yang diberikan bila dibudidayakan di kolam. Komposisi pakan yang baik adalah mengadopsi dengan kebiasaan di alam. Ikan yang biasa memakan serat/ bahan nabati kalau diberi pakan terlalu banyak daging/ bahan hewani tentu berakibat buruk bagi pencernaannya, demikian pula sebaliknya. Hasilnya, di dalam perut ikan belanak terdapat juga pasir, berbagai jenis lumut, berbagai jenis plankton baik fitoplankton maupun zooplankton dan hewan moluska seperti cacing dan sejenis jeroan kece (tiram sungai). Hal ini menandakan ikan ini adalah golongan ikan omnivore dengan kecenderungan herbivore, karena tidak ditemukan daging ikan atau kepiting di dalam perutnya.





2.4. TKG (Tingkat Kematangan Gonad), IKG (Indeks Kematangan Gonad), Fekunditas, Panjang Berat, dan Faktor Kondisi

Ikan belanak jantan dan betina mengalami matang gonad pertama pada ukuran 120 mm dan 140 mm. Histology gonad jantan, pada TKG I ditunjukan dengan adanya spermatogonium, TKG II ditunjukan dengan spermatosit primer yang kemudian berkembang menjadi spermatosit sekunder pada TKG III, pada TKG IV ditunjukan dengan spermatid dan spermatozoa, dan pada TKG V yang merupakan TKG terakhir dalam perkembangan gonad jantan didominasi oleh spermatosit tetapi sudah muncul spermatogonium. Perkembangan gonad ikan betina, pada TKG I gonad didominasi oleh oogonium kemudian diiringi dengan perkembangan oosit pada TKG II. Pada ukuran sel telur terus berkembang membentuk ootid, kemudian ootid berkembang membentuk ovum (TKG IV), pada TKG V gonad didominasi oleh oosit dan ootid.
Ikan belanak yang telah matang gonad memiliki nilai presentase IKG jantan (1,31% dan 1,17%) maupun betina (12,79% dan 9,69%). Fekunditas ikan belanak dari TKG II dan IV berkisar 27.117 – 323.200 butir. Ikan belanak memiliki panjang rata 190 – 230 mm dengan berat kurang dari 0,2 kg (200 g), ukuran tersebut dapat dicapai dengan waktu 3 bulan. Menurut Silva dan de Silva (1981) faktor kondisi ikan belanak di Perairan Negombo, Srilangka mencapai nilai maksimum 1,2 pada jantan dan 1,14 untuk betina.




DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, T. 1981. Dunia ikan. Armico Bandung. 190 halaman.
Firhansyah. 2005. Pola Kebiasaan Makanan (Food Habits) Famili Mugilidae Yang Tertangkap Dengan Pukat Pantai (Beach Seine) di Muara Sungai Hanyar Desa Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan.
Jannah dan Mia Rahmatul. 2001. Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Ikan Belanak Mugil dussumieri di Perairan Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur.http://iirc.ipb.ac.id.

Silva and de Silva, 1981. Aspect of biology of Grey Mullet, Mugil dussumieri L., adult population of a Coastal Lagoon Sri Langka. Department of Zoologi. Ruhuna University College. Matara. Sri Langka.
Sabtu, 16 Juli 2011

Untuk Seseorang Pembawa Warna


Aku tak tau harus mengartikan apa atas semua yang aku rasakan.
Semua bagaikan sebuah tanda tanya besar, yang menutupi semua jawaban yang aku butuhkan.
Terkadang aku merasa dekat denganmu dan terkadang kau sangat jauh dariku.
Disaat kau dekat denganku, aku bisa tersenyum dan tertawa bahagia.
Namun disaat kau jauh?
Meskipun aku tetap bisa tersenyum dan tertawa,  tetapi seperti ada yang hilang dalam hidup ini.
Kau layaknya matahari yang menyinari separuh kehidupan disaat siang.
Layaknya bulan yang menjadi cahaya diseparuh waktu gelapnya malam.
Kau akan datang dan membuatku tersenyum sejenak, setelah itu akan pergi lagi menghilang dan kembali disaat kau ingin.
Tanpa sengaja kau membuat organ dan alat indraku tidak berfungsi dengan baik.
Hati ini kau buat cemburu kepada mata dan otak, karena mata dapat melihatmu dan otak dapat memikirkanmu setiap saat.
Tetapi apa?
“hati ini tak jua memilikimu”.
Aku tak ingin memaksamu berada dalam sepenuh waktuku, karena itu takan membuatmu bahagia.
Akupun tak ingin kau terlalu lama pergi menghilang, karena itu akan membuatku gelisah.
Aku tak akan mengharapkan lebih, atas apa yang kurasakan saat ini.
Jika kau benar orang yang tepat untukku, aku akan menerimanya dengan penuh kebahagian.
Seandainya hubungan ini hanya sebatas sahabat, itu merupakan lebih dari cukup.
Karena hanya mengenalmu, itu merupakan anugrah terbesar yang diberikan padaku.
Karena kau telah memberikan warna yang berbeda dalam hidup ini.
Sabtu, 25 Juni 2011

PAPER SEX REVERSAL


I.  PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Perkembangan zaman yang semakin pesat memaksa manusia berfikir ekonomis yang selalu beroreantasi pada keuntungan yang besar. Pemikiran ini sejalan dengan prisip budidaya perikanan yang tujuan akhirnya adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini yang mendasari para peneliti untuk menghasilkan ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Ikan dapat memiliki ekonomis tinggi tergantung terhadap keinginan konsumen dan daya tarik ikan itu sendiri baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Ikan hias akan memiliki nilai jual tinggi ketika ikan tersebut dapat menghasilkan warna dan bentuk yang menarik dan biasanya pada ikan hias yang dapat menghasilkan warna dan bentuk yang menarik adalah ikan jantan. Sedangkan, untuk ikan konsumsi yang memiliki nilai jual yang tinggi adalah ikan betina. Hal ini dikarenakan ikan betina memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan ikan jantan.
Permasalahan diatas saat ini telah ditemukan jalan keluarnya yaitu dengan sex reversal atau pembelokan kelamin. Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat  dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam  cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah.
Hormon yang digunakan untuk membelokan jenis kelamin jantan menjadi betina adalah estradiol-17, esteron, estriol, dan ethynil estradiol. Hormone yang digunakan untuk membelokan jenis kelamin betina menjadi jantan adalah testoteron, 117-α-methyl testoteron, dan androstendion.

1.2. Tujuan
           Paper ini dibuat dengan tujuan agar pembaca dapat mengerti dan memahami lebih jelas mengenai tehnik sex reversal (menghasilkan kelamin tunggal).
 
  
II. SEX REVERSAL

2.1. Sejarah Sex reversal
           Teknik sex reversal mulai dikenal pada tahun 1937 ketika estradiol 17 disintesis untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pada mulanya teknik ini diterapkan pada ikan guppy (Poeciliareticulata sp.). Kemudian dikembangkan oleh Yamamato di Jepang pada ikan medaka (Oryzias latipes). Ikan medaka betina yang diberi metiltestosteron akan berubah menjadi jantan. Setelah melalui berbagai penelitian teknik ini menyebar keberbagai negara lain dan diterapkan pada berbagai jenis ikan. Awalnya dinyakini bahwa saat yang baik untuk melakukan sex reversal adalah beberapa hari sebelum menetas (gonad belum terdiferensiasikan). Teori ini pun berkembang karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa sex reversal dapat diterapkan melalui embrio dan induk yang sedang bunting.

2.2. Pengertian Sex reversal
           Sex reversal merupakan teknik buatan yang dimaksudkan untuk pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnya berkelamin jantan menjadi kelamin betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan sebelum terdiferensiasinya gonad ikan secara jelas antara jantang dan betina pada waktu menetas. Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya.
 
2.3. Metode Sex reversal
Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sel kromosomnya.  Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan 50% betina pada pemijahan pertama dan 30% jantan 50% betina pada pemijahan berikutnya.
Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat  dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam  cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis ikan hias seperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan daripada ikan betina. Dengan demikian nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina. Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras murni. Pada kasus hermaprodit, hormon yang diberikan hanya akan mempercepat proses perubahan sedangkan pada sex reversal perubahannya benar-benar dipaksakan. Ikan yang seharusnyaberkembang menjadi betina dibelokkan perkembangannya menjadi jantan melalui proses penjantanan (maskulinisasi). Sedangkan ikan yang seharusnya menjadi jantan dibelokkan menjadi betina melalui proses pembetinaan (feminisasi).


III. KESIMPULAN

Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sel kromosomnya.  Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan 50% betina pada pemijahan pertama dan 30% jantan 50% betina pada pemijahan berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarsito, Hamzah S., dan Dini S.M. 2003. Pengaruh Penambahan Methyltestoteron dalam Pakan terhadap Nisbah Kelamin Ikan Guppy (Poeciliareticulata sp). Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. [Jurnal Penelitian].

Adam M. F. 2006. Pengaruh Pemberian Pakan Berhormon 17a-Metiltestosteron Pada Dosis 30, 40, Dan 50 mg/kg Pakan Terhadap Nisbah Kelamin Ikan Luo Han (Cichlasoma Sp). Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Jurnal Penelitian].

Arifin T.M. 2006. Optimalisasi Dosis Hormon Metiltestosteron dan Lama perendaman Benih Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy Lac.) Terhadap Keberhasilan Pembentukan kelamin Jantan. [Jurnal Penelitian].
Jumat, 17 Juni 2011

"Car Free Day hanya sebatas wacana"

Harus menyikapi bagaimana diri ini dengan keadaan kampus, hingga salah satu teman baikku bilang acara “Car Free Day hanya sebatas wacana”.
Kemarin tanggal 17 juni 2011, kampusku tercinta “sebenarnya berat bibir ini untuk mengatakanya” mengadakan kembali acara car free day. Ini acara kedua yang dibuat dikampusku selama saya kuliah disini, tapi untuk pertama kali saya mengikuti acara ini. Saya tidak ikut serta dalam car free day part I, karena pada waktu itu fakultas saya meliburkan diri
“ya, karena alasan yang tak tau kenapa!!!”.
Mendapatkan jarkom sehari sebelum acara ini dilaksanakan selintas dalam pikiranku. Mengatakan bahwa ini adalah
“Kebijakan yang baik yang dibuat oleh salah satu pejabat tertinggi dikampus ini, dengan berusaha mentiadakan beberapa saat kendaraan bermotor pada pukul 06.00 hingga 10.00 WIB”.
Tetapi kenyataanya!!!
“Semua ini hanya patut di jadikan wacana, yang kertasnya dibuang ketempat sampah yang bau busuk”. Buat kebijakan ko malah ngjatuhin harga diri sendiri, politik apa lagi ini!!!
Benar kata soe hok gie, “semua yang berkaitan dengan politik itu tai kucing!!!” (mulai dari yang teri sampai yang kakap sama-sama tai kucing).
Mulanya saya amat mendukung acara ini, dengan semangat saya berangkat dari kosan tepat jam 08:00 pagi untuk mengikuti kuliah jam 09:00. Ini rentang waktu yang lama untuk saya mencapai kampus jika pergi menggunakan sepeda motor. Tapi, berbeda jika saya berangkat dengan berjalan kaki ke kampus. 1 jam mungkin waktu yang cukup mangantarkan langkahku sampai di kampus, sebenarnya 30 menit juga cukup tetapi sengaja saya sediakan waktu 30 menit untuk menghilangkan letih dan mengeringkan keringat. Semua berjalan sesuai yang saya bayangkan ketika melihat didepan masjid kampus terisi penuh dengan kendaraan sepeda motor dan mobil-mobil yang di parkir. Saya tetap lanjutkan perjalanan dengan ditemani sebotol air mineral (bukan teman maupun pujaan hati). Hingga tidak jauh setelah pintu gerbang kampus, saya bertemu beberapa teman sekelas. Tapi mereka membagi dua, ada kaum mayoritas yang berjalan melewati peternakan dan kaum minoritas yang berjalan melewati jalan utama kampus. Saya putuskan untuk mengikuti kaum minoritas karena beberapa hal, meskipun jalan yang ditempuh lebih jauh. Lingkungan kampus benar-benar berbeda tidak seperti biasa yang ramai akan lalu lalang kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat bahkan dijam kerja biasanya angkot masuk ke dalam kampus, tapi ini benar-benar sepi dan banyak mahasiswa yang berjalan kaki “terasa kampus hijau”.
Semua seperti apa yang saya bayangkan bahkan memberi aura positif dipikiran saya mengenai kampus ini, hingga sedikit kejanggalan muncul dengan banyaknya motor yang diparkir dijurusan tata ruang kota. Hal ini tidak membuat saya curiga. Saya berfikir, mungkin teman-teman datang jam 6 pagi atau sebelum jam 6 “pikiran yang lugu”. Tetapi setelah itu kejanggalan lain munjul, lewatnya mobil hitam dengan plat nomor berwarna merah tepat di depan mataku sedangkan jam masih menunjukan pukul 08:30 “Siapa lagi kalo bukan salah satu pejabat dikampus ini”.
Hahhhhhhhhhhhhh…
Ternyata pejabat ga punya muka plus urat malu yang udah putus, atau pejabat ga punya otak yang ga tau bagaimana cara ngebaca jam. Jelas-jelas diperaturan acara ini sampai jam 10:00 WIB baru jam 08:30 udah lewat mana pake mobil rakyat lagi. Atau jangan-jangan jam yang ditangan pejabat itu bukan jam Waktu Indonesia Barat (WIB) tapi Waktu Indonesia Timur (WIT) yang waktunya 2 jam lebih cepat. Kalo demikian bisalah ditoleransi, tapi cuma orang idiot yang pake jam ga sesuai sama waktu dimana dia tinggal. Belum habis rasa kesalku, salah satu temanku bilang “kalo pejabat tertinggi di kampus kita tadi juga pake mobil ketika meninggalkan kampus”.
Hahhhhhhhhhhhhh…
Semua ini terasa bangun tiba-tiba dari mimpi yang indah tanpa ending yang diharapkan atau bagaikan pujangga yang menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang, terlihat biasa tapi membuat kecewa dan sakit hati.
Sudahlah, saya anggap semua itu salah satu penyakit jika seseorang telah memiliki suatu jabatan.
Perjalanan kami lanjutkan, dan kembali keanehan benar-benar terlihat, dipertigaan rektorat dan teknik elektro ada beberapa lalu lalang mobil dan sepeda motor. Kalo yang ini buka pejabat atau dosen, melainkan mahasiswa yang mungkin sudah terkena salah satu penyakit para idolanya yang saya sebutkan tadi. Lebih parahnya lagi ketika sampai area fakultas tujuan saya, saya melihat lalu lalang kendaraan bermotor yang semakin banyak, dan lebih banyak lagi yang telah di parkir campurlah punya dosen ada mahasiswa juga banyak. Semua ini seperti pemandangan biasa ngga ada spesialnya car free day dengan hari-hari biasa.
Pikiran saya ya sesuai pepatah “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”
Atasnya begitu ya bawahnya juga ikut, gemana Negara ini ga makin  ancur kalo pejabat yang masih ecek-ecek dan mahasiswa yang belum ada apa-apanya udah punya penyakit layaknya pejabat-pajabat kelas kakap yang ga patut dicontoh.
Bikin kebijakan ya sebaiknya dipikir dulu, kalo ngerasa ga bisa ngjalaninnya mending ga usah bikin kebijakan yang berlebihan atau seandainya bikin kebijakan ga usah ikut berpartisipasi. Biar penyakit busuknya ga ketauan.

Minggu, 05 Juni 2011

Asal Usul Nama Indonesia


Asal usul Nama Indonesia dan sejarah lengkap Indonesia akan dibahas lebih dalam disini.

Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Makna Politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah SWT pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Hidup Indonesia dan jangan berhenti berjuang karena perjuangan ini belum berakhir.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan arti dari perjalan masa lampau.
Sumber: Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004
Kamis, 19 Mei 2011

Mandalawangi-Pangrango

Sendja ini, ketika matahari turun
ke dalam jurang-jurang mu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
dalam dinginmu


walaupun setiap orang berbicara
tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan
menyelimuti Mandalawangi
kau datang kembali
dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya
tanpa kita bisa mengerti, tanpa bisa kita menawar
terimalah, dan hadapilah”
dan antara ransel-ransel kosong
dan api unggun yang membara
aku terima itu semua
melampaui batas-batas hutanmu,
melampaui batas-batas jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19-7-1966
Soe Hok Gie
Minggu, 01 Mei 2011

Paper Histologi Sistem Pernafasan dan Hati Ikan


Pendahuluan
Histologi berasal dari bahasa Latin yaitu histo dan logos yang memiliki arti jaringan dan ilmu. Sehingga histologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari struktur jaringan sehat pada suatu organisme. Sedangkan ilmu yang mempelajari struktur jaringan abnormal atau rusak pada suatu organisme disebut histopathologi. Jaringan merupakan sekumpulan sel yang bentuk dan fungsinya sama. Jenis – jenis jaringan dasar adalah jaringan epithel, otot, tulang, darah, syaraf, lemak dan jaringan ikat.
Perkembangan zaman yang semakin pesat mengantarkan histologi kedalam ilmu perikanan. Histologi amat berperan dalam dunia perikanan, karena dapat membandingkan dengan tepat ikan yang sehat atau sakit melalui jaringan – jaringan ikan tersebut. Hal tersebut sangat membantu sektor perikanan yang kini terlalu mengeksploitasi lingkungan untuk kegiatan budidaya. Eksploitasi yang berlebihan tersebut menyebabkan munculnya bakteri dan virus yang dapat menyerang organisme budidaya, sehingga menurunkan hasil produksi. Peran histologi dan histopathologi disini menjadi sentral, karena dengan metode kerja ilmu ini dapat melihat kedalam struktur jaringan yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sehingga dengan ilmu ini dapat menyimpulkan bakteri atau virus yang menyerang biota budidaya dan megetahui solusi untuk penyembuhannya. Analisa histopatologi dapat digunakan sebagai biomarker untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan melalui perubahan struktur yang terjadi pada organ-organ yang menjadi sasaran utama dari bahan pencemar seperti insang, hati, ginjal dan sebagainya (Dutta, 1996 dalam Alifia dan Iqbal, 2000).
             Palar (1994) dalam Alifia dan Iqbal 2000, menyatakan dampak lain dari kepentingan manusia yaitu pencemaran lingkungan perairan essensial dan nonessensial yang dapat terjadi pada badan air dalam lingkungan perairan. Hasil pencemaran yang paling berbahaya untuk ikan adalah logam berat di atas ambang batas pada perairan. Adanya logam berat diperairan akan secara langsung mempengaruhi kesehatan ikan terutama pada insang. Karena ikan selalu melakukan kontak langsung dengan air melalui insang pada saat respirasi. Setelah itu, organ – organ lain juga akan ikut mengalami kerusakan.
Histologi Sistem Pernafasan Ikan
Sistem pernafasan ikan terdiri dari organ yang mengikat oksigen dan mengeluarkan buangan karbondioksida hasil respirasi. Organ tersebut adalah insang dan struktur yang berhubungan dengan insang seperti pembuluh darah, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen dan karbondioksida. Letak insang berada di dua sisi tubuh ikan bagian depan, yang terdiri dari gill filament terstruktur dan permukaan yang luas untuk menyerap oksigen. Pergantian oksigen dengan karbondioksida terjadi pada pembuluh darah dalam gill filament yang menempel pada gill arch.
Gambar 1. Sistem pernafasan ikan, jaringan pembuluh darah dalam insang akan menangkap oksigen dan melepaskan karbondioksida  (Sumber; Harpeni, 2011)
Proses pernafasan pada ikan dimulai dari ikan membuka mulut dan menutup operculumnya sedemikian rupa sehingga air yang kaya oksigen dapat terdorong ke dalam mulut dan melewati insang. Jaringan pembuluh darah dalam insang akan menangkap oksigen dan melepaskan karbondioksida dan buangan respirasi lainnya. Terakhir ikan akan menutup melutnya dan membuka operculum untuk mengalirkan air yang telah melalui insang (Harpeni, 2011).
Insang merupakan organ yang paling sering terkena patogen. Hal ini dikarenakan insang merupakan organ dalam yang paling sering kontak langsung dengan air dibandingkan dengan organ dalam lainnya. Patogen dapat dengan mudah masuk ketika ikan sedang berespirasi, karena pada saat respirasi mulut ikan akan terbuka sehingga air masuk kedalam mulut kemudian keluar lagi melalui insang. Berikut merupakan contoh ikan yang terkena pathogen pada insang.
 
Gambar 2. Kondisi histologi insang rusak karena patogen Epitheliocystis (kiri) dan Amoebic gill disease (kanan) (Sumber: Harpeni, 2011).
            Berdasarkan hasil penelitian Alifia dan Iqbal (2000), bahwa kerusakan lamella insang terjadi sejalan dengan semakin tingginya konsentrasi logam timbal (Pb). Kerusakan yang terjadi menyebabkan system respirasi ikan terhambat dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian ikan. Selain itu, pada konsentrasi tertentu dapat menyebabkan hati dan pangkreas menjadi rusak. Kondisi histologi insang dengan konsentrasi 0,05 ppm menunjukan terjadinya pembesaran epitel lamella. Hal ini dikarenakan hipertropit akibat akumulasi konsentrasi Pb yang terikat pada epitel.
Gambar 3. Kondisi histologi kerusakan epitelium pada insang juvenil ikan bandeng (Chanos chanos) dengan konsentrasi logam timbal 0,05 ppm (Sumber: Alifia dan Iqbal, 2000).
            Kerusakan semakin berkembang ketika konsentrasi Pb meningkat. Hiperplasia terjadi ketika konsentrasi Pb 0,1 ppm dan hilangnya fungsi epitel ketika konsentrasi 0,15 ppm. Hal tersebut dapat terjadi karena necrosis pada lamella sekunder yang ditandai dengan terbentuknya jaringan baru berupa jaringan ikat. Jaringan ikat adalah jaringan yang membentuk funsi mekanik antara tulang rawan dan tulang keras (Irianto, 2005).
                    
Gambar 4.  Kondisi histologi kerusakan epitelium dengan konsentrasi logam timbal 0,1 ppm dan kondisi histologi terbentuknya jaringan ikat pada insang juvenil ikan bandeng (Chanos chanos) dengan konsentrasi logam timbal 0,15 ppm (Sumber: Alifia dan Iqbal, 2000).
Histologi Hati Ikan
Subandiyono dan Sri H. (2010), menyatakan bahwa hati mampu mensintesis atau menyimpan nutrient yang terserap, memproduksi cairan empedu, dan sebagai pembuangan beberapa produk limbah dari darah. Bedasarkan fungsinya tersebut, hati merupakan organ yang paling banyak mengakumulasi zat toksik yang  masuk dalam tubuh sehingga dapat dengan mudah terkena efek toksik. Adanya zat toksik dalam hati maka dapat mempengaruhi struktur histologi hati. Penelitian histopatologi hati pernah dilakukan oleh Hidayati (2009) dengan hasil menunjukan ikan bandeng yang dipelihara dalam air yang mengandung lumpur siduarjo mengalami pembengkakan sel dan kehilangan integritas pembuluh darah kapiler (sinusoid).
            Berdasarkan hasil penelitian Setyowati dkk (2010) di lokasi lumpur Siduarjo mendapatkan hasil, Ikan belanak (Mugil sp) mengalami kerusakan bridging necrosis, fokal nekrosis, degenerasi intralobular, peradangan, dan pembengkakan bagian portal.
 
Gambar 5.   Kondisi histologi hati normal ikan nila (Oreochromis niloticus) (kiri) dan kondisi histologi hati ikan Mugil cephalus menunjukan bridging necrosis (BD) dan central yein (CV) pembesaran 100x (Sumber: Setyowati dkk, 2010).
Kesimpulan
Organ pada ikan yang mudah terserang patogen atau mudah rusak karena lingkungan yang buruk adalah organ insang dan hati. Insang merupakan organ awal yang paling sering terkena patogen. Hal ini dikarenakan insang merupakan organ dalam yang paling sering kontak langsung dengan air dibandingkan dengan organ dalam lainnya. Organ hati merupakan organ yang paling banyak mengakumulasi zat toksik yang  masuk dalam tubuh sehingga dapat dengan mudah terkena efek toksik. Adanya zat toksik dalam hati maka dapat mempengaruhi struktur histologi hati. Sehingga untuk menganalisa histologi ikan dapat dimulai dari dua organ insang dan hati terlebih dahulu.





DAFTAR PUSTAKA
Alifia F. dan M.Iqbal Djawad. 2000. Kondisi Histologi Insang dan Organ Dalam Juvenil Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forskall) yang Tercemar Logam Timbal (Pb). Science and Technology. [Jurnal].

Hidayati, Dewi. 2009. Aplikasi Fitoremediasi Polutan dengan Kiambang (Salvinia molesta) dan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) pada Air Tercemar Lumpur Lapindo dan Uji Biologis Sebagai Media Pemeliharaan Bandeng (Chanos chanos). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. ITS. [skripsi].

Irianto A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Setyowaty A., D. Hidayati, Awik P.D.N., dan Nurlita A. 2011. Studi Histopatologi Hati Ikan Belanak (Mugil cephalus ) di Muara Sungai Aloo Sidoarjo. Program Studi FMIPA. ITS. [skripsi].

Subandiyono dan S. Hastuti. 2010. Nutri Ikan. Tim Pengajar Nutrisi Ikan FPIK. Universitas Diponegoro.